Share

32. Kelaparan

last update Tanggal publikasi: 2026-01-07 09:59:42

Motor Fahri melaju tanpa banyak kata. Angin malam menyapu wajah mereka, tapi tidak satu pun terasa menenangkan. Nayla duduk di belakang, memeluk perutnya sesekali, lebih karena ingin diperhatikan daripada benar-benar tidak kuat.

Begitu sampai di rumah orang tuanya, pintu belum sepenuhnya tertutup ketika suara Laila sudah menyambar.

“Darimana aja sih kalian?” bentaknya dari ruang tengah.

Rumah itu terasa pengap meski lampu menyala terang. Bau minyak goreng bekas dan udara yang tidak bergerak mem
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 123. Fatimah

    Wanita berhijab itu masih berdiri di sudut ruangan. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat melihat Zidan berbicara dengan para tamu.Namun di balik senyum itu, ada perasaan yang hanya dirinya sendiri yang tahu.Matanya perlahan memanas.Bukan karena iri.Bukan karena marah.Melainkan karena kenangan lama yang tiba-tiba kembali memenuhi pikirannya.Beberapa tahun lalu...Di bawah rindangnya pohon di halaman sebuah kampus Islam ternama, seorang pria berdiri di hadapannya.Zidan.Saat itu usia mereka masih jauh lebih muda."Jadi kamu benar-benar akan berangkat?" tanya Zidan.Fatimah mengangguk pelan."Aku sudah diterima.""Kapan?""Bulan depan."Zidan terdiam cukup lama.Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah perempuan yang sudah dikenalnya bertahun-tahun itu."Lalu kita?"Fatimah tersenyum kecil.Senyum yang saat itu justru terasa menyakitkan bagi Zidan."Nggak ada kita.""Fatimah...""Aku serius."Zidan mengepalkan tangannya."Kita sudah dijodohkan keluarga.""Aku tahu.""Orang tua kit

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 122. Hari bahagia khalisa

    Setelah prosesi akad dan doa selesai, suasana gedung perlahan berubah menjadi lebih santai. Para tamu mulai berpindah ke area jamuan. Suara percakapan dan tawa terdengar dari berbagai sudut ruangan. Beberapa tamu penting terlihat berbincang sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan.Khalisa yang kini duduk berdampingan dengan Zidan masih sesekali menerima ucapan selamat dari para tamu. Namun di balik senyumnya, ada satu pertanyaan yang sejak tadi terus mengganggu pikirannya.Ia melirik suaminya pelan.Pria itu tampak tenang seperti biasa. Sesekali membalas sapaan tamu dengan sopan, lalu kembali duduk tanpa menunjukkan sedikit pun rasa canggung.Khalisa menggigit bibir bawahnya sebentar sebelum akhirnya memberanikan diri mendekat."Kamu siapa sebenarnya, Zidan?" bisiknya pelan.Zidan menoleh.Tatapan mereka bertemu."Apa itu penting?" tanyanya tenang.Khalisa langsung mengangguk."Iya, penting.""Kenapa?"Karena sekarang aku sudah jadi istrimu."Jawaban itu membuat sudut bibir Zid

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 121. Pergi!

    Sementara itu, jauh dari kemegahan gedung tempat akad berlangsung, Fahri sedang duduk santai di ruang tamu rumah orang tua Nayla. Televisi menyala menemani suasana pagi, sementara Nayla dan ibunya sibuk di dapur menyiapkan makanan. Fahri tampak memainkan ponselnya sambil sesekali melirik layar televisi tanpa minat. Namun tiba-tiba sebuah tayangan siaran langsung pernikahan menarik perhatiannya. Awalnya ia tidak terlalu peduli, sampai kamera menyorot wajah pengantin wanita.Fahri langsung membeku. Ponselnya nyaris terjatuh dari genggamannya."Tunggu..." gumamnya pelan sambil menyipitkan mata. "Nggak mungkin..."Ia duduk tegak dan menatap layar tanpa berkedip. Dadanya mulai berdebar kencang."Itu... itu Khalisa?"Fahri langsung berdiri dan mendekati televisi. Semakin dekat ia melihat, semakin jelas wajah perempuan itu, dan semakin sulit baginya menyangkal kenyataan."Itu Khalisa..." lirihnya. "Tidak mungkin."Matanya membesar saat melihat sosok perempuan yang pernah menjadi istrinya itu

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 120. Haru

    Khalisa berusaha mengabaikan bisikan-bisikan yang masih terdengar di sekitarnya. Ia menarik napas panjang dan menenangkan dirinya. Hari ini bukan tentang penilaian orang lain. Hari ini adalah hari yang akan mengubah hidupnya. Seorang wanita berpakaian rapi yang sejak tadi berdiri di dekat pelaminan berjalan mendekat. "Silakan, Bu Khalisa." Wanita itu tersenyum hangat lalu menuntunnya menuju tempat duduk yang telah disiapkan. Khalisa kembali dibuat terkejut. Tempat duduk itu berada di bagian depan ruangan dengan dekorasi yang sangat mewah. Bunga-bunga segar menghiasi setiap sudut. Lampu kristal menggantung indah di atas kepala. Semuanya tampak elegan tanpa terlihat berlebihan. Ia duduk perlahan. Dari tempat itu, ia bisa melihat dengan jelas area akad yang berada tidak jauh di depannya. Sementara itu, Zidan berjalan menuju meja akad. Langkahnya tenang dan mantap. Pria itu mengenakan setelan putih gading yang membuat penampilannya semakin berwibawa. Para tamu memperh

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 119. Hari pernikahan

    Perjalanan menuju lokasi acara berlangsung dalam suasana yang penuh rasa penasaran.Khalisa duduk di kursi belakang mobil mewah itu bersama Tami, Nadia, Dinda, dan Tante Rina. Sejak meninggalkan rumah, jantungnya tidak pernah benar-benar tenang.Entah sudah berapa kali ia menatap keluar jendela.Entah sudah berapa kali pula ia mengingat kembali percakapannya dengan Zidan beberapa minggu terakhir.Bukankah mereka sudah sepakat?Akad sederhana.Hanya keluarga dan kerabat dekat.Tidak perlu berlebihan.Tidak perlu pesta besar.Namun semakin dekat ke hari pernikahan, semakin banyak kejutan yang muncul satu per satu.Mulai dari butik pengantin mahal.Tim MUA profesional.Mobil mewah yang menjemputnya pagi ini.Dan sekarang...Mobil yang mereka tumpangi perlahan memasuki area sebuah gedung megah yang berdiri di pusat kota.Khalisa langsung membelalakkan mata.Di halaman gedung itu sudah berjejer puluhan mobil mewah.Beberapa pria berjas dan wanita berpakaian elegan tampak berjalan keluar ma

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 118. Jemputan spesial

    Tim MUA itu benar-benar profesional. Sejak Khalisa duduk di depan meja rias, mereka bekerja dengan sangat hati-hati. Salah satu perias utama bahkan beberapa kali memuji kulit wajah Khalisa yang terawat alami. "Masyaallah, Mbak Khalisa cantik sekali. Jarang kami dapat pengantin dengan kulit sebersih ini," puji salah seorang anggota tim. Khalisa hanya tersenyum malu. "Ah, biasa saja." "Bukan biasa, Mbak. Wajah Mbak memang fotogenik. Bahkan tanpa make up pun sudah cantik." Ucapan itu membuat Tami yang berdiri di belakang ikut tersenyum bangga. Proses rias berlangsung hampir dua jam. Sedikit demi sedikit wajah Khalisa berubah semakin anggun. Namun para perias sengaja tidak membuat riasan yang berlebihan. Mereka mempertahankan kecantikan alami Khalisa sehingga hasil akhirnya terlihat elegan dan berkelas. Di tengah kesibukan itu, suara mobil kembali terdengar dari luar rumah. Tak lama kemudian pintu terbuka. "Nad!" Khalisa langsung tersenyum lebar. Nadia masuk sambil me

  • Ku Miskinkan Suamiku   48. Emosi Khalisa

    Belum lima menit setelah ibu itu pergi, pintu toko kembali terbuka.Kali ini suara geserannya terdengar keras.Khalisa yang sedang mencatat penjualan otomatis menoleh.Darahnya langsung terasa turun.Laila berdiri di ambang pintu.Hijabnya dililit asal, wajahnya tegang, matanya menyapu toko dengan

  • Ku Miskinkan Suamiku   46. Kehilangan jejak

    “Sudahlah, Fahri!” bentak Laila tiba-tiba. Suaranya meninggi, memotong amarah yang masih menggantung di udara. “Bikin rumah ribut saja. Kamu pikir hidup orang lain nggak capek?”Fahri menoleh cepat. “Bu—”Belum sempat kalimat itu selesai, Arini sudah bergerak. Ia meraih tas kecilnya, melangkah cepa

  • Ku Miskinkan Suamiku   35. Arini bertingkah

    Saat sore menjelang malam, Fahri akhirnya pulang.Motor tua itu berhenti di depan rumah yang masih berantakan. Fahri turun tanpa semangat, helm dilempar ke kursi plastik di teras. Langkahnya berat ketika masuk ke ruang tengah. Bau semen dan debu masih menyengat, bercampur dengan aroma pewangi ruang

  • Ku Miskinkan Suamiku   34. Surat peringatan

    Di rumah Laila, suasana jauh dari kata tenang. Rumah itu masih setengah jadi. Cat dinding belum rata, lantai keramik sebagian masih tertutup debu semen, dan beberapa sudut ruangan dipenuhi ember serta peralatan tukang. Renovasinya berjalan lambat. Bukan karena konsepnya rumit, tapi karena uang ser

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status