Share

32. Kelaparan

last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-07 09:59:42

Motor Fahri melaju tanpa banyak kata. Angin malam menyapu wajah mereka, tapi tidak satu pun terasa menenangkan. Nayla duduk di belakang, memeluk perutnya sesekali, lebih karena ingin diperhatikan daripada benar-benar tidak kuat.

Begitu sampai di rumah orang tuanya, pintu belum sepenuhnya tertutup ketika suara Laila sudah menyambar.

“Darimana aja sih kalian?” bentaknya dari ruang tengah.

Rumah itu terasa pengap meski lampu menyala terang. Bau minyak goreng bekas dan udara yang tidak bergerak mem
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 96. Mempertahankan

    Khalisa menutup matanya sejenak, berusaha menenangkan napasnya yang masih tidak teratur. Namun semakin ia mencoba tenang, semakin terasa jelas detak jantungnya yang berdebar tak menentu.“Adit…” ucapnya pelan. Suaranya terdengar lebih lemah dari sebelumnya.Ia tidak menatap pria itu, seolah takut jika pandangan mereka kembali bertemu, semua pertahanannya akan runtuh begitu saja.“Kamu pulang aja, ya…”Kalimat itu sederhana, tetapi diucapkan dengan susah payah.Adit terdiam. Tatapannya tertuju pada Khalisa, mencoba memahami apa yang sebenarnya dirasakan wanita itu.“Aku gak mau hubungan tanpa restu,” lanjut Khalisa, masih tanpa menatapnya. “Aku sudah pernah di posisi itu… dan semuanya hancur.”Tangannya mengepal pelan di samping tubuhnya.“Aku gak mau mengulang hal yang sama.”Hening.Adit menarik napas dalam.“Lis…” suaranya kini lebih pelan, tidak lagi menekan, tidak lagi terburu-buru. “Kalau aku yang memperjuangkan restu itu… gimana?”Khalisa akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 95. Adit datang

    Hening menggantung di antara mereka. Khalisa menatap Tami dengan mata yang masih basah. Dadanya naik turun, menahan sisa tangis yang belum sepenuhnya reda. “Siapa, Tan?” tanyanya pelan. Ada rasa penasaran… tapi juga ketakutan. Tami tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Khalisa lebih dalam, seolah ingin memastikan sesuatu. “Kalau Tante bilang sekarang…” ucapnya hati-hati, “apa kamu sudah siap menerimanya?” Pertanyaan itu membuat Khalisa terdiam. Bibirnya sedikit terbuka, namun tak ada kata yang keluar. Ia menunduk. Jari-jarinya saling bertaut, menggenggam satu sama lain seolah mencari kekuatan. “Hm…” ia menghela napas pelan. “Beri aku waktu, Tan…” Suaranya lirih, tapi jelas. Tami terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. Namun matanya tetap menyimpan kegelisahan. “Jangan lama-lama, Nak…” ucapnya pelan. Nada suaranya berubah—lebih dalam, lebih jujur. “Tante… gak selamanya bisa tinggal sama kamu.” Khalisa langsung mengangkat wajahnya. Ada keterkejutan di sana. Tami tersenyum tipis, me

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 94. Siapa dia

    Suaranya nyaris tak terdengar. Tatapannya berpindah ke arah Tami, seolah mencari penjelasan… mencari alasan.Tami menatapnya lembut, meski ada kegugupan yang tak bisa disembunyikan.“Iya, Nak…” ucapnya hati-hati. “Kami cuma ingin kamu bahagia.”Khalisa menunduk. Roti di tangannya perlahan ia letakkan kembali ke piring.Pagi yang tadi terasa hangat, tiba-tiba berubah. Bukan menjadi dingin… tapi terasa berat.Di dalam dadanya, sesuatu bergerak—kenangan, rasa takut, dan luka yang belum sepenuhnya sembuh.Ia menarik napas pelan.“Kenapa… tiba-tiba, Tante?” tanyanya lirih.Yono tidak langsung menjawab. Ia menatap Khalisa sejenak, lalu berkata pelan,“Karena kamu gak bisa terus sendiri, Nak.”Khalisa tersenyum tipis. Senyum yang berbeda dari sebelumnya—tipis dan rapuh.“Sendiri… gak selalu buruk, Om,” ucapnya pelan, meski suaranya terdengar goyah.Tami menggeleng kecil.“Bukan itu maksud kami. Kami hanya ingin ada orang yang menjaga kamu… yang benar-benar tulus.”Khalisa terdiam. Tatapannya

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 93. Menikah?

    Malam itu berjalan pelan.Televisi menyala di ruang tengah, menampilkan acara yang sebenarnya tidak benar-benar mereka perhatikan.Tami duduk di sofa, tangannya terlipat di pangkuan. Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya jauh ke mana-mana.Yono duduk di sampingnya, bersandar tenang. Sesekali matanya melirik ke arah tangga.Seolah memastikan Khalisa benar-benar sudah beristirahat.Suasana hening beberapa saat.Hanya suara televisi yang mengisi ruangan.“Apa sudah waktunya, Pah… kita kasih tahu Khalisa?” suara Tami akhirnya memecah keheningan.Pelan.Penuh keraguan.Yono tidak langsung menjawab.Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.“Jangan tunggu lama, Ma,” jawabnya tenang. “Nanti keburu gak sesuai rencana.”Tami menoleh.Ada kegelisahan yang jelas terlihat di wajahnya.“Aku masih takut, Pah…” ucapnya lirih. “Kalau Khalisa nolak… dan akhirnya semua malah berantakan.”Yono menatap istrinya.Lama.Seolah mencoba menenangkan tanpa harus banyak kata.“Kita gak maks

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 92. Perhatian

    Setelah melayani pelanggan dan merapikan barang di toko hingga sore, Khalisa akhirnya pulang. Ia menyetir sendiri. Jalanan terasa biasa saja, tapi pikirannya penuh. Lelah… bukan hanya fisik, tapi juga hati. Semua kejadian hari itu seperti berputar ulang di kepalanya—Adit, Kayla, dan Zidan. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Mobilnya perlahan masuk ke halaman rumah. Begitu turun, langkahnya terhenti. Halaman rumah terlihat rapi. Rumput dipotong pendek, tanaman tersusun indah. “Wah… indah sekali,” celetuknya pelan. Di sudut halaman, Yono sedang merapikan sisa potongan rumput. Khalisa langsung menghampiri. “Ya ampun, Om… gak usah repot-repot potong rumput,” ucapnya dengan senyum yang mulai mengembang. Perasaan hangat perlahan muncul. Seperti… punya orang tua lagi di rumah ini. Yono menoleh dan tersenyum. “Gak apa-apa. Biar enak dilihat,” jawabnya santai. “Sana masuk, bersihin diri dulu. Om beresin ini sebentar lagi.” “Baik, Om,” jawab

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 91. Menjauh

    Zidan berdiri di samping ibunya, tetapi perhatiannya justru tertuju pada ponselnya.Jari-jarinya sibuk mengetik, sesekali menatap layar dengan serius.Seolah urusan di dalam layar itu lebih penting dari apa pun di sekitarnya.“Yang itu aja, Nak. Ibu sudah suka,” ucap wanita tua itu lembut.Khalisa tersenyum kecil, lalu segera mengambil baju yang ditunjuk.“Oh iya, Bu,” jawabnya ramah sambil mendekat.Ia menyerahkan baju itu dengan hati-hati.Sekilas, Khalisa melirik ke arah Zidan.Namun pria itu masih saja fokus pada ponselnya.Tidak memperhatikan sama sekali.Khalisa sedikit mengernyit, tapi tidak mengatakan apa-apa.“Nah, yang ini cocok dengan usia Ibu,” lanjut wanita itu lagi sambil memperhatikan bahan baju di tangannya.Khalisa mengangguk.“Iya, Bu. Bahannya juga nyaman dipakai,” jelasnya.Wanita itu tersenyum puas.“Bagus. Ibu ambil ini saja.”Khalisa mengangguk lagi.“Baik, Bu. Saya siapkan ya.”Ia berbalik menuju meja kasir.Sementara itu, Zidan akhirnya menurunkan ponselnya.T

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 90. Kamu pilihanku

    “Kayla! Apa-apaan sih kamu ke sini?”Suara Adit terdengar keras begitu ia mendekat.Langkahnya cepat, wajahnya terlihat jelas menahan emosi.Kayla menoleh dengan tatapan tidak kalah tajam.“Itu urusan aku, Dit,” balasnya dingin. “Lagipula kamu ngapain ke sini lagi? Mau aku laporin kamu ke mama kamu

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 89. Kayla

    “Akhirnya kamu datang.”Suara perempuan itu terdengar dingin.Khalisa yang masih berdiri di dekat mobil menatapnya beberapa detik, mencoba mengingat wajah itu.Lalu ia sedikit mengernyit.“Kamu Kayla, kan?” tanya Khalisa pelan.Perempuan itu mengangkat dagunya sedikit, seolah bangga dengan pengakua

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 87. Emosi yang membuncah

    Tangis bayi itu akhirnya mereda setelah Nayla menidurkannya di atas kasur kecil di sudut kamar. Bayi itu terlelap, napasnya naik turun pelan, tidak tahu bahwa kedua orang tuanya sedang bertengkar di ruang yang sama. Nayla berdiri beberapa langkah dari kasur. Matanya merah karena menahan tangis.

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 86. Uang gadai habis

    Sore itu Fahri pulang ke rumah dengan langkah berat. Kepalanya terasa pening sejak tadi. Tangannya berkali-kali menggaruk rambutnya dengan gelisah, seolah berharap pusing di kepalanya ikut hilang. Namun yang berputar di pikirannya hanya satu hal—uang. Uang hasil menggadaikan rumah yang dulu begi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status