Malam itu udara di sekitar rumah Khalisa terasa tenang, tapi di dalam kamar, suasananya justru berat. Setelah semua kejadian hari itu, Bu Rina memutuskan untuk tidak pulang. Dinda juga memilih tinggal bersama ibunya. Ia khawatir Fahri akan nekat datang lagi dan membuat keributan.Kamar Khalisa cukup luas, dengan ranjang besar di tengah, lemari kayu di sisi kanan, dan karpet tebal di bawah kaki. Lampu meja menyala redup, menciptakan cahaya lembut yang membuat suasana sedikit lebih hangat. Di atas meja kecil, ada camilan yang disiapkan Khalisa—beberapa bungkus keripik, biskuit, dan minuman kemasan yang Dinda ambil tanpa sungkan.“Lis,” suara Bu Rina memecah keheningan. Ia duduk di tepi ranjang, sementara Khalisa bersandar di kepala ranjang dengan selimut menutupi kakinya. “Apa sebaiknya kamu hubungi Om Bondang dan Tante Halimah kamu, Nak? Mereka harus tahu keadaan kamu sekarang.”Khalisa menunduk, memegang ujung selimut. Wajahnya terlihat ragu.“Aku takut, Tan,” jawabnya pelan. “Dari du
Terakhir Diperbarui : 2026-01-01 Baca selengkapnya