Belum lima menit setelah ibu itu pergi, pintu toko kembali terbuka.Kali ini suara geserannya terdengar keras.Khalisa yang sedang mencatat penjualan otomatis menoleh.Darahnya langsung terasa turun.Laila berdiri di ambang pintu.Hijabnya dililit asal, wajahnya tegang, matanya menyapu toko dengan cepat—rak, meja kasir, etalase—seolah sedang menghitung apa saja yang bisa ia sentuh.Di belakangnya, dua pelanggan lain baru saja masuk dan langsung terdiam.“Oh, pantes,” ucap Laila nyaring. “Sibuk jualan sekarang. Duitnya dari mana, hah?”Khalisa menegakkan punggung. Tangannya refleks merapikan hijabnya, bukan karena malu, tapi karena tubuhnya bersiap.“Bu Laila,” ucapnya tenang, meski dadanya berdebar. “Ini toko. Ada pelanggan.”“Justru itu!” suara Laila meninggi. “Biar semua orang tahu kamu itu seperti apa!”Salah satu pelanggan, perempuan muda, melirik Khalisa dengan ragu.Khalisa melangkah sedikit ke depan meja kasir. “Silakan bicara di luar, Bu.”“Kenapa? Takut?” Laila tertawa pendek
Terakhir Diperbarui : 2026-01-22 Baca selengkapnya