Arini yang sejak tadi menahan diri akhirnya maju selangkah. Suaranya melembut, berbeda dari sikapnya sebelumnya.“Kak,” katanya pelan, hampir merengek, “tapi Kak Fahri tetap suami kakak. Jangan usir kami, dong. Rumah ibu kan lagi renovasi.”Khalisa menoleh ke arahnya. Tatapannya tidak keras, tapi kosong. Seolah kata-kata itu tidak lagi menyentuh apa pun di dalam dirinya.“Sayang, jangan emosi,” Fahri ikut menyela, mencoba mendekat. Tangannya terangkat sedikit, ragu-ragu, seolah ingin menyentuh lengan Khalisa tapi takut ditolak. “Kita bicarakan baik-baik.”Laila hanya membuang muka. Pandangannya jatuh ke lantai. Tidak ada lagi yang bisa ia katakan tanpa membuat posisinya makin lemah. Semua yang tadi ia banggakan sudah runtuh satu per satu.Khalisa menghela napas, dadanya naik turun. Amarahnya kini tidak meledak, justru terasa dingin dan berat.“Aku cuma mau satu hal,” katanya akhirnya, suaranya meninggi tajam. “Aku ingin tenang di rumahku sendiri. Jadi tolong, Mas, bawa keluargamu kelu
Terakhir Diperbarui : 2025-12-24 Baca selengkapnya