共有

56. Kedatangan Laila

last update 公開日: 2026-01-29 09:16:33
Laila pergi sendiri. Ia memilih mobil travel yang biasa mangkal di ujung jalan. Tidak ada Fahri yang mengantar, tidak ada pamit panjang. Ia hanya membawa tas besar berisi dompet dan botol minum. Perjalanan memakan waktu lebih dari satu jam. Sepanjang jalan, wajah Laila keras. Tidak ada ragu di kepalanya. Baginya, rumah itu masih urusan keluarga. Masih ada hak Fahri di sana, apa pun alasan Khalisa.

Di rumah, Fahri duduk di tepi ranjang. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya menyangga wajah. Dari
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 162. Romatisnya

    Hari-hari Khalisa bersama Zidan di Prancis terasa menyenangkan. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu berdua, menikmati suasana kota, mencoba makanan baru, dan sesekali berjalan-jalan tanpa memikirkan pekerjaan.Sore itu, Khalisa baru saja selesai membereskan beberapa barang. Ia kemudian menghampiri Zidan yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil memainkan ponselnya.Khalisa langsung tengkurap di atas kasur.“Mas.”“Hm?” Zidan masih melihat ponselnya.“Pijitin punggungku, dong.”Zidan menoleh, lalu meletakkan ponselnya.“Kenapa? Pegal?”“Iya. Dari tadi rasanya nggak nyaman.”“Ya sudah, sini.”Zidan bergeser mendekat dan mulai memijat punggung istrinya perlahan.“Begini?”Khalisa mengangguk kecil.“Iya. Enak.”“Memangnya tadi kamu ngapain aja sampai pegal begini?”“Jalan-jalan, terus beresin barang. Mas lupa kita besok pulang?”“Oh, jadi ini gara-gara beresin barang?”“Ya, salah satunya.”Zidan tersenyum sambil terus memijatnya.“Kenapa nggak minta bantuan Mas?”“Kamu dari tadi si

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 161. Terungkap

    Arlina terus menunggu di tempatnya bersembunyi. Jantungnya berdegup semakin kencang ketika melihat Arini akhirnya keluar dari gedung itu.Namun, langkah Arini tidak sendirian.Seorang laki-laki berjalan di sampingnya. Dari cara berpakaian dan sikapnya, Arlina langsung tahu bahwa laki-laki itu salah satu tamu tempat tersebut.Bahkan, laki-laki itu merangkul Arini begitu mereka keluar.Arlina membeku.Tatapannya turun pada pakaian Arini yang terlihat jauh lebih terbuka dibandingkan saat berada di rumah.Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.“Kenapa, Kak?” lirih Arlina. “Kenapa Kakak seperti ini?”Arini dan laki-laki itu kemudian masuk ke dalam mobil.Arlina buru-buru menuju motornya.Ia menyalakan mesin dan mengikuti mobil tersebut dari kejauhan.Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ingin ia percaya.Namun, ketika mobil itu berhenti di depan sebuah hotel, tubuh Arlina terasa lemas.“Tidak mungkin...” bisiknya.Arini turun bersama laki-laki te

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 160. kerja malam

    Hari demi hari, tingkah Arini semakin membuat Arlina gelisah.Kadang Arini pulang tengah malam.Kadang baru muncul keesokan harinya.Bahkan pernah sampai tiga hari Arini tidak pulang.Setiap kali ditanya, jawabannya selalu sama."Urusan kerja."Lama-lama Bu Laila juga tidak lagi bertanya.Yang penting Arini masih pulang dan membawa uang.Setiap kali Arini menyerahkan uang, Bu Laila hanya tersenyum."Wah, anak Ibu yang paling cantik. Terima kasih, ya, uangnya."Arini biasanya hanya tersenyum."Iya, Bu."Tidak ada pertanyaan tentang dari mana uang itu.Tidak ada pertanyaan kenapa Arini sering pulang larut malam.Bagi Bu Laila, selama Arini membantu kebutuhan rumah, ia memilih tidak ikut campur.Berbeda dengan Arlina.Semakin lama, Arlina justru semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan kakaknya.Malam itu, sekitar pukul dua dini hari, Arini kembali keluar rumah.Arlina yang masih terjaga langsung bangun.Ia melihat dari balik jendela ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah.

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 159. Batin Arlina

    Arlina akhirnya masuk ke kamarnya.Namun rasa penasaran membuatnya sulit tidur.Ia terus memikirkan kejadian di lampu merah tadi.Perempuan yang dilihatnya memang sangat mirip dengan Arini.Begitu juga pria yang duduk di sampingnya.Ada sesuatu yang terasa familiar.Tetapi Arlina belum bisa mengingatnya.Di kamar sebelah, Arini juga belum tidur.Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap ponselnya.Sebuah pesan baru masuk.Arini membacanya sebentar, lalu langsung menghapusnya.Ia meletakkan ponsel di atas meja.Wajahnya terlihat gelisah.Sementara itu, Fahri yang tidur di ruang depan ternyata masih terjaga.Ia mendengar suara pintu kamar Arini tertutup.Fahri membuka matanya.Ia teringat ucapan Laila tentang Arini yang sekarang menjadi tulang punggung keluarga.Fahri lalu melihat ke arah kamar adiknya."Kerja apa sebenarnya dia?"Ia menguap dan kembali berbaring.Namun beberapa saat kemudian, ia mendengar suara notifikasi dari ponsel Arini.Fahri tidak terlalu memperdulikannya.Hingga su

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 158. Siapa dia?

    Laila akhirnya masuk ke dapur. Tidak lama kemudian, ia kembali membawa sepiring nasi dengan lauk seadanya. Hanya telur dadar, tumis sayur, dan sedikit sambal.Ia meletakkan piring itu di hadapan Fahri."Sudah, makan dulu."Fahri tidak banyak bicara. Ia langsung mengambil nasi dan mulai makan.Rasa lapar yang sejak tadi ditahannya membuat Fahri makan dengan lahap. Meski lauknya sederhana, ia tidak mempermasalahkannya.Laila memperhatikan dari samping."Jangan cuma tahu makan. Besok cari kerja."Fahri masih mengunyah."Iya, iya, Bu. Bisa diam nggak?"Laila langsung melotot."Dasar anak nggak tahu diri."Fahri hanya menghela napas dan kembali menyendok nasi.Beberapa saat kemudian, ia menatap ibunya."Oh iya, Bu.""Hm?""Kalian dapat uang dari mana?"Laila mengernyit."Maksudmu?""Rumah memang sederhana, tapi kelihatannya kebutuhan masih bisa jalan."Fahri kembali memasukkan nasi ke mulut."Arini kerja," jawab Laila singkat."Dia yang banyak membantu kebutuhan rumah."Fahri berhenti meng

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 157. kembali romantis

    Zidan perlahan kembali masuk ke kamar.Lampu kamar masih menyala redup. Khalisa masih membelakanginya, tubuhnya terdiam di balik selimut.Zidan berdiri beberapa saat di sisi tempat tidur.Setelah berbicara dengan Nadya, ia baru menyadari betapa banyak hal yang tidak ia mengerti tentang istrinya.Ia kemudian naik ke tempat tidur.Perlahan, Zidan mendekat dan memeluk Khalisa dari belakang.Tubuh Khalisa sempat menegang.Namun hanya beberapa detik.Setelah itu ia kembali diam.Tidak menolak.Tidak pula membalas pelukan tersebut.Zidan merapatkan pelukannya.Tangannya hanya melingkar lembut di pinggang Khalisa.Ia tidak mengatakan apa-apa.Malam itu, untuk pertama kalinya, Zidan memilih diam dan membiarkan Khalisa dengan perasaannya sendiri.Khalisa memejamkan mata.Air mata yang sejak tadi ia tahan kembali mengalir.Namun kali ini ia tidak mengusapnya.Entah kenapa, pelukan Zidan membuat pertahanannya sedikit runtuh.Ia tahu suaminya tidak bersalah.Ia tahu Zidan tidak melakukan apa pun

  • Ku Miskinkan Suamiku   14. gajian

    Hari-hari setelah itu berjalan dengan sunyi yang aneh.Keluarga Fahri benar-benar tidak pergi dari rumah Khalisa. Mereka tetap ada—mengisi ruang tamu, dapur, dan kamar-kamar—tapi seolah Khalisa tidak lagi termasuk di dalamnya. Tidak ada sapa. Tidak ada tegur. Tidak ada percakapan. Jika berpapasan,

  • Ku Miskinkan Suamiku   13. Talak aku mas!

    Arini yang sejak tadi menahan diri akhirnya maju selangkah. Suaranya melembut, berbeda dari sikapnya sebelumnya.“Kak,” katanya pelan, hampir merengek, “tapi Kak Fahri tetap suami kakak. Jangan usir kami, dong. Rumah ibu kan lagi renovasi.”Khalisa menoleh ke arahnya. Tatapannya tidak keras, tapi k

  • Ku Miskinkan Suamiku   12. Hal yang sulit buat Fahri

    “Bu, memang semua ini punya Khalisa,” kata Fahri akhirnya, suaranya terdengar terburu-buru, seolah ingin segera menutup situasi yang makin menekan. “Tapi selama ini aku yang menafkahi.”Kalimat itu jatuh begitu saja di ruangan yang sudah tegang.Khalisa terdiam.Bukan karena tidak punya jawaban, ta

  • Ku Miskinkan Suamiku   7. keberanian khalisa

    Khalisa menoleh perlahan, menatap lurus ke mata Nayla. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum tulus, melainkan senyum getir. “Kita lihat nanti saja. Siapa yang benar-benar sendirian pada akhirnya.” Nayla terdiam, tak menyangka Khalisa bisa balik menohok. Malam itu, Khalisa duduk di kursi empuk r

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status