Hari pertama Lusi kembali ke kantor tidak terasa seperti kembali ke medan perang. Ia sempat mengira akan ada tatapan aneh, bisik-bisik tertahan, atau sikap canggung yang dibuat-buat. Namun yang ia temui justru sebaliknya, orang-orang bersikap lebih hati-hati, lebih sopan, bahkan sebagian tampak kasihan. Beberapa rekan kerja menyapanya seperti biasa. “Pagi, Lu.” “Udah lama gak kelihatan.” Tidak ada nada menghakimi. Tidak ada sindiran. Ada juga yang hanya tersenyum kecil, seolah ingin mengatakan kami tahu, dan kami mengerti, tanpa perlu kata-kata. Lusi duduk di mejanya, menyalakan komputer, lalu berhenti sejenak. Dadanya terasa ringan. Bukan karena semuanya sempurna, tapi karena ia tidak lagi merasa harus menjelaskan hidupnya pada siapa pun. Di sela-sela pekerjaan, ia sempat membuka ponsel. Bukan untuk membaca komentar, tapi untuk melihat pesan dari Aron. “Semoga hari pertamamu lancar.” Lusi tersenyum kecil dan membalas singkat. “Aku baik-baik saja.” Kalimat itu benar-benar m
Read more