Setelah tangis Lusi mereda dan napasnya kembali teratur dalam pelukan Aron, suasana di ruang itu berubah. Yang awalnya menyayat dengan isak tangis, kini menjadi lebih sepi. Meski belum sepenuhnya tenang. Ini terasa seperti jeda yang cukup panjang, dan ada sesuatu yang sedang dipikirkan dengan matang oleh Aron. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, satu tangannya masih mengusap lengan Lusi pelan. Ia tau istrinya adalah yang paling terluka dalam drama yang dibuat oleh Rangga. “Dia pasti sengaja,” katanya akhirnya. Suaranya datar, seperti menahan marah. Lusi tidak menoleh. Ia masih fokus pada kesedihannya. “Dia mau diperhatikan, divalidasi, dan dianggap korban agar kesalahannya gak bikin dia merasa bersalah. Itu sifat dasar manipulator.” Lusi menarik napas panjang, dadanya naik turun, lalu ia menunduk. Air matanya kembali jatuh, kali ini tanpa suara. “Aku gak pernah kabur,” katanya lirih. “Aku pergi karena aku dijual sama dia. Kalo aku gak dijual, aku juga bakal tetep jadi istr
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-01-04 อ่านเพิ่มเติม