Malam telah merangkak jauh melewati pukul sebelas, ketika pintu apartemen terbuka pelan. Di ruang tamu, Moza segera mendongak dari buku yang sedang dibacanya. Sejak Dastan pergi, ia tidak bisa fokus pada apa pun, termasuk buku di tangannya. Pikiran Moza melayang ke mansion Limantara, membayangkan badai yang mungkin sedang dihadapi suaminya.Dastan melangkah masuk dengan bahu yang tampak luruh. Ia tidak langsung menyapa, melainkan menghempaskan diri di sofa. Pria itu tampak seperti prajurit yang baru saja pulang dari medan perang dengan luka yang tak berdarah."Dastan?"Begitu menatap mata suaminya yang redup, Moza langsung merengkuh tubuh Dastan. Ikatan yang terjalin di antara mereka, membuat Moza paham bahwa sang suami baru saja menghadapi tekanan berat. Dastan terdiam sesaat, sebelum akhirnya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Moza. Napasnya terasa lebih pendek."Opa mengusirku, Moza," bisik Dastan, suaranya parau dan pecah. "Opa sangat kecewa padaku, karena aku memiliki anak
Ler mais