Melihat istrinya seperti tenggelam dalam pikiran sendiri, Dastan mencoba bertanya lagi."Moza, bagaimana? Kalau kau tidak setuju, aku akan...""Tentu saja boleh," potong Moza, berusaha bersikap wajar. "Kayden memang suka menggambar. Aku senang jika dia bisa belajar banyak hal dari pamannya."Dastan menghela napas lega, senyum hangat mulai mengembang. Namun, sebelum rasa lega itu sepenuhnya mengisi ruang hatinya, kalimat lanjutan Moza membuat Dastan menoleh tajam."Aku akan menemani Kayden. Kebetulan, aku sudah lama tidak mengunjungi galeri seni."Dastan sontak memandang Moza, dahinya berkerut penuh pertimbangan. "Kau yakin akan ikut, Sayang?""Iya," jawab Moza, mantap. "Apa kau keberatan?"Dastan terdiam sejenak, seakan mencari kata-kata yang tepat. Ada kilat keraguan di matanya, sebuah perasaan naluriah yang muncul dari hati seorang suami."Kageo sudah berubah lebih tenang," gumam Dastan. Suaranya tiba-tiba terdengar berat, seperti mengakui sesuatu yang tidak sepenuhnya ia percayai
Read more