Langit sore memudar menjadi jingga keemasan ketika Alya tiba di pantai kecil di ujung kota. Tempat itu tak terlalu ramai, hanya beberapa anak berlarian sambil tertawa, dan suara ombak mengiringi langkahnya. Di tangan kanannya, ia membawa buku catatan kulit cokelat — yang dulu selalu ia bawa di masa-masa terberatnya. Di halaman terakhir, masih tersisa satu lembar kosong. Ia duduk di atas pasir, membiarkan ujung gaunnya tersentuh ombak kecil. Angin laut membawa aroma asin dan melati dari sela rambutnya. Perlahan, ia membuka buku itu, lalu mulai menulis: “Untuk diriku yang dulu,” Aku tahu kau pernah menangis sampai sulit bernapas. Aku tahu kau pernah berharap seseorang datang menyelamatkanmu — tapi tak seorang pun muncul. Aku tahu betapa sepinya rasanya ketika dunia seakan menutup pintu, sementara kau hanya ingin dimengerti. Kau marah, bukan? Pada mereka, pada hidup, bahkan pada dirimu sendiri. Tapi lihat sekarang — kau masih di sini. Tidak utuh, tapi hidup. Tidak sempurna,
Last Updated : 2025-11-21 Read more