Home / Romansa / ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN / Jebakan dan Retakny Kepercayaan

Share

Jebakan dan Retakny Kepercayaan

Author: arselaa
last update Last Updated: 2026-01-11 23:31:28

"Jangan tegang begitu, Luna," bisik Alissa tepat di telinga gadis itu, cukup pelan agar hanya Luna yang bisa merasakan desisan dinginnya. "Aku akan mengajarimu segalanya. Termasuk bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untukmu."

​Luna merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia melirik Arkan, berharap mendapatkan kekuatan dari pria itu, namun Arkan justru sedang menatap ibunya dengan sorot mata penuh kecurigaan yang tajam. Ada perang dingin yang baru saja meletus di meja makan itu, dan Luna menyadari bahwa ia adalah medan perangnya.

​Di ujung meja, Ibu Rina menyesap kopinya dengan anggun, menyembunyikan senyum kemenangan di balik cangkir porselennya. Ia tahu, Alissa adalah "senjata" yang jauh lebih mematikan daripada Reno. Jika Reno menyerang dengan fakta, maka Alissa akan menyerang dengan perasaan—menghancurkan kepercayaan diri Luna hingga gadis itu merasa tidak layak lagi berada di sisi Arkan.

​"Sarapan yang sangat menarik," gumam Arkan dengan nada sarkasme
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Rahasia Yang Tertunda

    "Arkan, demi Tuhan, tatap aku!" Luna bersimpuh di lantai marmer yang dingin, mencoba meraih ujung jas Arkan dengan jemari yang bergetar hebat. "Aku tadi berada di ruang ganti bersama Alissa. Aku bahkan tidak pernah mendekati ruang kerja Ibu!" "Jangan dengarkan dia, Arkan!" Ibu Rina menyela dengan nada tajam yang memekakkan telinga. "Kalung itu ada di dalam tasnya! Apa lagi yang perlu dibuktikan? Dia sengaja memanfaatkan celah saat Alissa memintanya mencoba gaun untuk menyelinap ke ruang kerjaku!" Alissa memasang wajah prihatin yang dibuat-buat, namun matanya berkilat puas. Ia berjongkok di samping Luna, berpura-pura ingin membantu namun justru membisikkan kata-kata yang menyakitkan. "Kasihan sekali. Padahal Arkan sudah memberimu segalanya, tapi ternyata sifat aslimu tetap saja rakus." Arkan akhirnya bergerak. Ia memungut kalung zamrud itu, menggenggamnya begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. Mata yang biasanya menatap Luna dengan penuh kehangatan, kini berubah menjadi sepas

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Jebakan dan Retakny Kepercayaan

    "Jangan tegang begitu, Luna," bisik Alissa tepat di telinga gadis itu, cukup pelan agar hanya Luna yang bisa merasakan desisan dinginnya. "Aku akan mengajarimu segalanya. Termasuk bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untukmu." ​Luna merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia melirik Arkan, berharap mendapatkan kekuatan dari pria itu, namun Arkan justru sedang menatap ibunya dengan sorot mata penuh kecurigaan yang tajam. Ada perang dingin yang baru saja meletus di meja makan itu, dan Luna menyadari bahwa ia adalah medan perangnya. ​Di ujung meja, Ibu Rina menyesap kopinya dengan anggun, menyembunyikan senyum kemenangan di balik cangkir porselennya. Ia tahu, Alissa adalah "senjata" yang jauh lebih mematikan daripada Reno. Jika Reno menyerang dengan fakta, maka Alissa akan menyerang dengan perasaan—menghancurkan kepercayaan diri Luna hingga gadis itu merasa tidak layak lagi berada di sisi Arkan. ​"Sarapan yang sangat menarik," gumam Arkan dengan nada sarkasme

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Rahasia Yang Mematikan

    Luna terpaku di depan pintu yang tertutup rapat itu. Kalimat terakhir Arkan—aku akan dengan senang hati memberikan seluruh dunia padanya—terus bergema, menghangatkan bagian terdalam hatinya yang selama ini membeku. Namun, rasa hangat itu segera disergap oleh rasa bersalah. Ia merasa seperti pencuri yang masuk ke dalam kebahagiaan keluarga Wijaya, tanpa tahu siapa dirinya sebenarnya. Tiba-tiba, pintu terbuka.Arkan muncul dengan wajah yang masih mengeras, namun tatapannya langsung melembut begitu menangkap sosok Luna. Di belakangnya, Ibu Rina berdiri dengan wajah pucat dan mata yang menyala penuh kebencian. "Luna? sejak kapan kamu di sini?" tanya Arkan sambil melangkah keluar dan merangkul bahu Luna secara protektif. Luna menelan ludah, mencoba menstabilkan suaranya. "Baru saja. Aku... aku ingin berterima kasih untuk gaunnya." Ibu Rina mendengus sinis, namun ia tidak meledak seperti biasanya. Ada kilat kemenangan yang aneh di matanya—kilat yang hanya muncul karena ia baru saja

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Rahasia Dibalik Nama Wijaya

    Perjalanan menuju butik terasa sangat mencekam. Di dalam mobil mewah itu, Ibu Rina tidak lagi berpura-pura ramah. Ia duduk tegak, menatap lurus ke depan sementara aroma parfumnya yang tajam seolah menghimpit ruang napas Luna. ​"Jangan besar kepala karena ucapan Ayah tadi," suara Ibu Rina memecah keheningan, dingin dan tajam. "Menjadi 'aset berharga' hanya berlaku selama kau berguna. Begitu rahimmu terisi, posisimu mungkin aman, tapi bukan berarti kau punya kendali di rumah ini." ​Luna mengepalkan tangannya di atas pangkuan, teringat pesan Arkan. Jangan tunjukkan wajah rapuhmu. ​"Saya menghargai kekhawatiran Ibu," jawab Luna setenang mungkin, meski suaranya sedikit bergetar. "Tapi saya di sini bukan hanya untuk memenuhi tuntutan pewaris. Saya di sini karena Arkan yang meminta saya tetap tinggal." ​Ibu Rina tertawa sinis. "Arkan hanya sedang terobsesi karena kau adalah mainan barunya. Tapi ingat, Luna, mainan bisa membosankan. Dan saat itu tiba, aku akan memastikan kau keluar da

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Fajar Di Mansion Wijaya

    Pagi menyapa dengan cahaya keemasan yang menembus celah gorden, Luna terbangun lebih dulu, merasakan beban lengan kokoh Arkan yang masih memeluk pinggangnya dengan posesif. Kejadian semalam bukan lagi sekadar kontrak; itu adalah penyerahan diri yang tulus. ​Luna menatap wajah Arkan yang tampak jauh lebih tenang saat tidur. "Apakah ini awal yang baru, atau justru akhir dari segalanya?" bisiknya pelan. ​Satu jam kemudian, Arkan terbangun. Ia tidak langsung beranjak, melainkan menarik Luna lebih dekat dan mengecup keningnya lama. "Jangan takut soal Kakek. Mulai hari ini, tidak ada lagi pil, tidak ada lagi sandiwara. Kita akan menghadapi Ibu bersama-sama." Luna hanya bisa terdiam, merasakan kecupan hangat Arkan yang masih membekas di keningnya. Wajahnya yang semula pucat kini merona hebat hingga ke telinga. Ia segera menarik selimut lebih tinggi, mencoba menyembunyikan rasa canggung yang tiba-tiba menyerang seluruh sarafnya. ​"Aku... aku mau mandi dulu," bisik Luna terbata, tanpa ber

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Kebenaran Yang Tersembunyi

    Keesokan paginya, suasana di mansion terasa sangat tegang namun sunyi. Arkan sudah berangkat ke kantor sejak pagi, meninggalkan Luna sendirian dalam pengawasan Ibu Rina. Ibu Rina tidak membuang waktu. Ia masuk ke kamar Luna saat menantunya itu sedang mandi. Dengan tangan yang terbungkus sarung tangan sutra, ia mengambil beberapa helai rambut Luna dari sisir meja rias, lalu mengambil sikat gigi cadangan yang sempat dipakai Luna semalam. "Kau tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga ini, Luna," desis Ibu Rina sambil memasukkan sampel itu ke dalam plastik klip. "Jika benar kau adalah darah daging Bramasta, aku akan memastikan kau lenyap sebelum Ayah sempat menyadarinya." Beberapa jam kemudian, di sebuah sudut kafe yang gelap, Ibu Rina menyerahkan amplop berisi sampel tersebut kepada Reno. "Lakukan tes DNA ini sekarang. Bandingkan dengan sampel biologis Bramasta yang tersimpan di arsip rumah sakit keluarga," perintah Ibu Rina. Reno menerima amplop itu dengan senyum miring. "Te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status