Beranda / Romansa / ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN / Rahasia Dibalik Nama Wijaya

Share

Rahasia Dibalik Nama Wijaya

Penulis: arselaa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-10 20:38:17

Perjalanan menuju butik terasa sangat mencekam. Di dalam mobil mewah itu, Ibu Rina tidak lagi berpura-pura ramah. Ia duduk tegak, menatap lurus ke depan sementara aroma parfumnya yang tajam seolah menghimpit ruang napas Luna.

​"Jangan besar kepala karena ucapan Ayah tadi," suara Ibu Rina memecah keheningan, dingin dan tajam. "Menjadi 'aset berharga' hanya berlaku selama kau berguna. Begitu rahimmu terisi, posisimu mungkin aman, tapi bukan berarti kau punya kendali di rumah ini."

​Luna mengepalkan tangannya di atas pangkuan, teringat pesan Arkan. Jangan tunjukkan wajah rapuhmu.

​"Saya menghargai kekhawatiran Ibu," jawab Luna setenang mungkin, meski suaranya sedikit bergetar. "Tapi saya di sini bukan hanya untuk memenuhi tuntutan pewaris. Saya di sini karena Arkan yang meminta saya tetap tinggal."

​Ibu Rina tertawa sinis. "Arkan hanya sedang terobsesi karena kau adalah mainan barunya. Tapi ingat, Luna, mainan bisa membosankan. Dan saat itu tiba, aku akan memastikan kau keluar da
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Rahasia Yang Mematikan

    Luna terpaku di depan pintu yang tertutup rapat itu. Kalimat terakhir Arkan—aku akan dengan senang hati memberikan seluruh dunia padanya—terus bergema, menghangatkan bagian terdalam hatinya yang selama ini membeku. Namun, rasa hangat itu segera disergap oleh rasa bersalah. Ia merasa seperti pencuri yang masuk ke dalam kebahagiaan keluarga Wijaya, tanpa tahu siapa dirinya sebenarnya. Tiba-tiba, pintu terbuka.Arkan muncul dengan wajah yang masih mengeras, namun tatapannya langsung melembut begitu menangkap sosok Luna. Di belakangnya, Ibu Rina berdiri dengan wajah pucat dan mata yang menyala penuh kebencian. "Luna? sejak kapan kamu di sini?" tanya Arkan sambil melangkah keluar dan merangkul bahu Luna secara protektif. Luna menelan ludah, mencoba menstabilkan suaranya. "Baru saja. Aku... aku ingin berterima kasih untuk gaunnya." Ibu Rina mendengus sinis, namun ia tidak meledak seperti biasanya. Ada kilat kemenangan yang aneh di matanya—kilat yang hanya muncul karena ia baru saja

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Rahasia Dibalik Nama Wijaya

    Perjalanan menuju butik terasa sangat mencekam. Di dalam mobil mewah itu, Ibu Rina tidak lagi berpura-pura ramah. Ia duduk tegak, menatap lurus ke depan sementara aroma parfumnya yang tajam seolah menghimpit ruang napas Luna. ​"Jangan besar kepala karena ucapan Ayah tadi," suara Ibu Rina memecah keheningan, dingin dan tajam. "Menjadi 'aset berharga' hanya berlaku selama kau berguna. Begitu rahimmu terisi, posisimu mungkin aman, tapi bukan berarti kau punya kendali di rumah ini." ​Luna mengepalkan tangannya di atas pangkuan, teringat pesan Arkan. Jangan tunjukkan wajah rapuhmu. ​"Saya menghargai kekhawatiran Ibu," jawab Luna setenang mungkin, meski suaranya sedikit bergetar. "Tapi saya di sini bukan hanya untuk memenuhi tuntutan pewaris. Saya di sini karena Arkan yang meminta saya tetap tinggal." ​Ibu Rina tertawa sinis. "Arkan hanya sedang terobsesi karena kau adalah mainan barunya. Tapi ingat, Luna, mainan bisa membosankan. Dan saat itu tiba, aku akan memastikan kau keluar da

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Fajar Di Mansion Wijaya

    Pagi menyapa dengan cahaya keemasan yang menembus celah gorden, Luna terbangun lebih dulu, merasakan beban lengan kokoh Arkan yang masih memeluk pinggangnya dengan posesif. Kejadian semalam bukan lagi sekadar kontrak; itu adalah penyerahan diri yang tulus. ​Luna menatap wajah Arkan yang tampak jauh lebih tenang saat tidur. "Apakah ini awal yang baru, atau justru akhir dari segalanya?" bisiknya pelan. ​Satu jam kemudian, Arkan terbangun. Ia tidak langsung beranjak, melainkan menarik Luna lebih dekat dan mengecup keningnya lama. "Jangan takut soal Kakek. Mulai hari ini, tidak ada lagi pil, tidak ada lagi sandiwara. Kita akan menghadapi Ibu bersama-sama." Luna hanya bisa terdiam, merasakan kecupan hangat Arkan yang masih membekas di keningnya. Wajahnya yang semula pucat kini merona hebat hingga ke telinga. Ia segera menarik selimut lebih tinggi, mencoba menyembunyikan rasa canggung yang tiba-tiba menyerang seluruh sarafnya. ​"Aku... aku mau mandi dulu," bisik Luna terbata, tanpa ber

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Kebenaran Yang Tersembunyi

    Keesokan paginya, suasana di mansion terasa sangat tegang namun sunyi. Arkan sudah berangkat ke kantor sejak pagi, meninggalkan Luna sendirian dalam pengawasan Ibu Rina. Ibu Rina tidak membuang waktu. Ia masuk ke kamar Luna saat menantunya itu sedang mandi. Dengan tangan yang terbungkus sarung tangan sutra, ia mengambil beberapa helai rambut Luna dari sisir meja rias, lalu mengambil sikat gigi cadangan yang sempat dipakai Luna semalam. "Kau tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga ini, Luna," desis Ibu Rina sambil memasukkan sampel itu ke dalam plastik klip. "Jika benar kau adalah darah daging Bramasta, aku akan memastikan kau lenyap sebelum Ayah sempat menyadarinya." Beberapa jam kemudian, di sebuah sudut kafe yang gelap, Ibu Rina menyerahkan amplop berisi sampel tersebut kepada Reno. "Lakukan tes DNA ini sekarang. Bandingkan dengan sampel biologis Bramasta yang tersimpan di arsip rumah sakit keluarga," perintah Ibu Rina. Reno menerima amplop itu dengan senyum miring. "Te

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Benih Yang Tertanam Dibalik Duri

    kilas balik ​Malam itu hujan turun sangat deras, namun teriakan di dalam ruang kerja Tuan Besar Wijaya jauh lebih menderu. Sari Adiwangsa, seorang wanita muda yang saat itu menjabat sebagai sekretaris pribadi kepercayaan keluarga, berdiri gemetar di hadapan Tuan Besar. Wajahnya pucat, tangannya mendekap perutnya yang mulai membuncit. ​"Aku mencintainya, Tuan Besar. Dan dia juga mencintaiku," bisik Sari dengan suara pecah. ​Tuan Besar Wijaya tidak bergeming. Ia berdiri menghadap jendela, menatap kegelapan. "Cinta adalah racun bagi ahli waris Wijaya, Sari. Putraku sudah menikah dengan Rina. Pernikahan itu adalah pilar bisnis kita. Apa yang kau kandung saat ini... adalah aib yang bisa meruntuhkan segalanya." ​Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbanting terbuka. Bramasta, putra tunggal Tuan Besar sekaligus suami Rina, masuk dengan napas memburu. Pakaiannya basah kuyup karena hujan. Ia langsung berdiri di depan Sari, melindunginya dari tatapan tajam ayahnya. ​"Hentikan, Ayah!" teriak Br

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Silsilah Yang Berduri

    Suara langkah kaki Ibu Rina bergema di koridor yang sunyi saat ia menuruni tangga, mengabaikan tatapan bingung para pelayan yang melihatnya pergi dengan wajah sedingin es. Di taman, Luna merasa jantungnya berdegup lebih kencang saat melihat sosok mertuanya muncul di ambang pintu kaca, lalu melenggang pergi begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. "Dia sudah pergi," bisik Luna, jemarinya masih kotor oleh tanah dari pot melati. "Tapi sorot matanya tadi... dia benar-benar tidak akan membiarkanku tenang, Arkan." Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru menarik sapu tangan dari saku jasnya, meraih tangan Luna, dan mulai mengusap noda tanah di jemari istrinya dengan gerakan perlahan namun tegas. "Ibu bukan tipe orang yang menyerah hanya karena satu kegagalan," ujar Arkan, matanya fokus pada tangan Luna. "Baginya, kegagalan hanyalah penundaan kecil. Dia akan mencari cara lain untuk menyerangmu." Luna menarik tangannya dengan gusar, merasa tidak nyaman dengan perhatian Arkan.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status