Lyra menatap Neilson, jarak di antara mereka masih begitu dekat. Napasnya sedikit tersengal, dadanya berdebar kencang. Dengan suara terbata-bata, ia mencoba menjelaskan.“Aku… aku harus pergi bekerja sekarang… aku sudah terlambat.”Neilson menatapnya tanpa berkedip, sorot mata datar, tak ada emosi yang tersirat di wajahnya. Perlahan, genggaman tangannya di lengan Lyra dilepaskan, diganti dengan kedua tangan yang masuk ke saku celana. Sikapnya tenang, tapi aura dominasi yang terpancar tetap membuat Lyra menegang.“Aku akan mengantarmu,” ucap Neilson, nada suaranya datar namun penuh ketegasan, seperti perintah yang tak bisa ditawar.Lyra tergagap hendak menolak, suaranya hampir tak terdengar. “T-tidak perlu… aku bisa—”“Aku tidak menawarkan dua kali.” Neilson langsung memotongnya, suaranya singkat, tegas, dan nyaris memaksa, tanpa memberi ruang bagi Lyra untuk melanjutkan penolakannya.Lyra terdiam, campuran terkejut dan gugup membuatnya tak berani membantah. Jantungnya berdetak lebih c
Terakhir Diperbarui : 2025-12-18 Baca selengkapnya