Pelakor.Kata itu masih menggantung di udara, meskipun Ardan sudah tidak lagi memikirkannya. Tapi Binar tahu, untuk anak seusianya, kata-kata seperti itu bisa masuk lebih dalam dari yang kita kira.Malam itu, setelah Ardan tidur, Binar masih duduk di meja makan. Sisa-sisa camilan sore belum dibereskan. Gelas susu Ardan masih di tempatnya, dengan sisa putih di dasar.Bhaga masuk. Duduk di sebelahnya."Mereka bilang pelakor," kata Binar sebelum Bhaga bertanya. "Ardan dengar dari ibu-ibu di sekolah."Bhaga diam. Tapi rahangnya bergerak."Aku sudah jelaskan ke Ardan," lanjut Binar. "Dia paham.""Kamu jelaskan bagaimana?"Binar menatapnya. "Bicara apa adanya saja."Tapi cerita sore itu tidak selesai di meja makan. Dan Bhaga, yang berdiri di balik pintu dapur saat itu, masih mengingat setiap kata.Sore itu, setelah Ardan bertanya, setelah kata pelakor keluar dari mulut anak enam tahun itu, Binar tidak panik.Dia duduk di samping Ardan, satu tangan merangkul bocah itu, tangan satunya di atas
Read more