LOGINSuasana terasa begitu canggung. Meja makan yang biasa berisi obrolan ringan dan ramai dengan celotehan Ardan, malam ini begitu sepi. Hanya ada denting piring dan sendok, juga helaan napas Ardan yang makan dengan malas.Mata Ardan berulang kali menatap ke arah Bhaga dna Binar, dan mukanya sedikit merengut.“Papa sama Bunda lagi berantem ya? Kok pada diem aja, sih, dari tadi?”Binar tersentak kecil, dia melirik Bhaga sesaat yang tetap datar dan fokus pada makanannya, lalu menoleh pada Ardan. “Enggak kok, Sayang. Papa cuma lagi kecapean aja.”Ardan mengangguk, lalu menatap Bhaga dengan serius. “Tadi aku jatuh, Pah, pas kejar burung merpati.”Bhaga melirik tajam ke arah Binar, mendengkus kecil, dan berdeham pelan. “Burung sudah pasti akan terbang saat merasa terancam, Nak. Otak punya sistem sendiri, saat merasa akan sesuatu yang berbahaya dia akan memerintahkan tubuh untuk berlindung.”Binar tersedak kecil dan tangannya dengan cepat meraih gelas minumnya dan meminumnya rakus.Ardan turun
Tak terasa sudah dua jam mereka bermain di taman. Matahari semakin terik dan keringat sudah membasahi pelipis keduanya.Ardan baru saja berhenti menangis karena terjatuh setelah mengejar burung merpati yang tak bisa dia tangkap. Lututnya merah, beruntung tidak sampai berdarah, hingga dia bisa berhenti menangis lebih cepat.Keduanya memutuskan membeli es krim dari penjual yang sejak tadi tidak berhenti dikerumuni orang-orang. Mereka duduk di bangku di bawah pohon besar, makan es krim sambil beristirahat sejenak. "Bunda.""Hm.""Kalau dinosaurus masih ada, mereka suka es krim tidak?""Tergantung dinosaurusnya.""T-Rex?""Mungkin lebih suka kamu daripada es krimnya."Ardan berkedip cepat, memproses kalimat itu. Lalu pindah duduk lebih dekat ke Binar.Binar menahan tawa sambil terus menikmati es krim.Melihat Ardan sudah kelelahan, Binar akhirnya menelepon sopir untuk menjemput mereka dan sekarang sedang berhenti di supermarket.Ardan mendorong troli kecil dengan wajah serius, mengamati
Cuaca begitu cerah di akhir pekan ini. Angin berhembus sejuk dan langit terlihat indah dengan matahari yang mengintip malu.Binar dan Ardan sedang menonton kartun di ruang keluarga sambil menunggu Bhaga bersiap.Sejak jam enam pagi tadi, Ardan sudah membangunkan Binar. Dia muncul di samping tempat tidur dan menempelkan tangan kecilnya di pipi Binar lalu mengelusnya pelan.“Bunda. Bangun, yuk.”Tubuh Binar bergerak kecil, matanya mengerjap, dan dia masih setengah sadar saat Ardan mengecup pipinya beberapa kali.“Bunda. Ayo, bangun.” Tangannya menarik pelan selimut Binar dan mengoyangkan bahunya. “Bun…”Suara rengekan Ardan membuat Binar sadar. Dia mengeliat pelan dan membuka mata. Wajah Ardan yang menekuk, dengan alis berkerut, dan bibir mengerucut, menjadi pemandangan pertama begitu Binar benar-benar membuka mata. Dia tersenyum dan tangannya terangkat mengelus pipi Ardan.“Kenapa, Sayang?”Wajah Ardan perlahan berubah. “Kita pergi, yuk, Bun.”"Ke mana?" Suara Binar masih serak."Ke ma
“Aku menginginkanmu, Sayang.”Tubuh Bhaga yang sudah mengukung Binar kini berbalik, tangan yang tadinya mendarat di pinggang Binar, sekarang mengulur ke arah panel lift dan menekan tombol merah.Mata Binar terbelalak,dia bahkan berpegang pada lengan Bhaga saat lift berhenti mendadak.“Bhaga!” pekiknya. Dia mendongak. “Apa yang—”“Sejak kamu masuk ruanganku tadi,” kata Bhaga. Matanya kembali menyusuri wajah cantik di depannya, “aku tidak bisa fokus, pikiranku dipenuhi oleh bayanganmu.”Binar berkedip. “Dan itu salahku?”“Tentu saja, karena kau mengusik ketenanganku.”Bibir Binar terbuka dengan ekspresi tak percaya. Dia kehilangan kata, tapi kembali tersadar saat lehenya sudah dikecupi oleh Bhaga dan pinggangnya ditarik mendekat hingga tubuh mereka menempel.“Bhaga, ini lift.”“Aku tahu.”“Ada CCTV.” Binar mendongak. Di sudut langit-langit, lensa kamera keamanan berkedip merah kecil. “Bagaimana kalau ada yang —”Tapi tangan Bhaga tak berhenti menjelajahi tubuh BInar. Dia bahkan tak sung
Binar baru selesai mengaplikasikan skincarenya. Dia sudah memakai piyama tidur dan bersiap untuk membaca ulang semua materi hari ini, tapi suara denting pesan masuk membuatnya meletakkan kembali bukunya. Tangannya mengambil ponsel di nakas dan dahinya mengernyit.“Ini beneran Bhaga yang kirim pesan begini?” tanyanya pada diri sendiri.Dia membacanya lagi.[Sayang, bisa ke kantor? Aku masih di sini dan mau kamu temeni.]Binar sudah mengetikkan balasan tapi kemudian dia memilih untuk melakukan panggilan saja. “Kamu serius?”Suara Bhaga terdengar begitu yakin. “Tentu. Kemarilah, aku tunggu.” “Memang kamu masih akan lama?” “Tidak tahu. Mungkin sampai jam sebelas.”Binar melirik jam di dinding dan ini masih jam delapan, lalu dia mengangguk. “Oke. Kamu mau dibawakan sesuatu.”“Tidak. Aku cuma mau kamu, Sayang.”**Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh saat Binar sampai. Dia menyapa para penjaga gedung dan melangkah masuk dengan langkah cepat. Keadaan kantor sudah sangat sepi, beberapa l
Kelas selesai lebih cepat. Binar merapikan barang-barangnya dan keluar ruangan, berjalan menyusuri koridor. Sepatu flat-nya nyaris tak bersuara di lantai marmer. Tangannya merapikan tas selempang di bahu, sambil menahan senyuman saat mengingat hasil presentasinya tadi diberikan nilai yang baik.Koridor begitu sepi. Sebagian besar karyawan sedang sibuk di meja masing-masing. Binar ingin ke pantry, mengambil minuman dingin sebelum pulang.Dua wanita berdiri di dekat ruang rapat. Wajah mereka berganti ekspresi dengan cepat saat melihat Binar, hingga terlihat senyum yang terlalu dipaksakan. Salah satunya menyapa, "Bu Binar, apa kabar?"Binar menjawab singkat sambil tersenyum, tapi langkahnya tidak berhenti.Di ujung koridor, sekelompok karyawan sedang mengobrol dengan suara yang pelan. Binar yang melihat itu, melambatkan langkahnya dan mendekat perlahan. Ketika salah seorang melihatnya datang dan memberikan kode, semua langsung salah tingkah. Percakapan itu berhenti mendadak. Wajah-wajah
Pintu penthouse terbuka lebar, dan mata Ardan yang masih berkabut kantuk langsung melebar. "Kak Bin?!" teriaknya, tidak percaya. Binar berdiri di balik pintu dengan senyum lebar dan mata berkaca-kaca. "Selamat ulang tahun, sayangnya kakak.” Dengan energi yang tiba-tiba meluap, Ardan dengan cepat
Kondisi di dalam mobil sudah berada di ketegangan yang berbeda. Udaranya terasa panas meski pendingin masih menyala kencang. Kini keduanya mulai bernapas berat karena hasrat yang lama tertahan. “Ah… ah…”Desahan Binar terdengar di ruang gelap dan sempit itu. Pakaiannya sudah berantakan, kancing ba
Hening. Semua seolah sunyi, tak ada suara. Tenggorokan Bhaga tercekat, hatinya serasa diremas kuat. Sakit sekali. Rasa bersalah dan penyesalan perlahan mulai memenuhi dirinya. Kenapa, Bhaga? Dia bertanya dalam hati. “Ardan,” lirihnya. Bhaga terdiam, menatap telapak tangannya sendiri yang masih te
“It’s so good,” ucap Bhaga di sela napasnya yang memburu. Binar di bawahnya, napasnya tersengal, peluh memenuhi dahi dan tubuhnya. Melihatnya begitu, Bhaga tidak sanggup menahan diri. Pria itu merunduk untuk menciumi rahang Binar, sebelum meraup bibirnya.Mereka sudah berkali-kali sampai, tapi Bh







