LOGINBhaga benar-benar serius dengan ucapannya. Selama tiga hari berikutnya, keadaan rumah ada di bawah pengawasannya.Hari pertama dia tidak ke kantor. Rudi yang mengurus semua rapat dan komunikasi dengan klien. Bhaga hanya sesekali mengecek email, ponsel, dan membalas pesan-pesan yang benar-benar penting. Selebihnya, dia di kamar. Menemani Binar.Mengecek suhu tubuh, mengganti kompres, dan membangunkannya saat waktu makan juga minum obat tiba. Bersyukur, tak ada yang perlu dikuatirkan, karena Binar perlahan membaik.Beberapa kali Binar setengah sadar saat kompres diganti. Matanya terbuka sebentar, melihat Bhaga di sampingnya, lalu tertidur lagi.Jam delapan Bhaga turun ke dapur. Maryam sedang menyiapkan masakan untuk makan siang."Bi, Binar makan bubur saja dulu. Yang lembut.""Sudah, Tuan. Sudah saya siapkan.""Pisang juga. Kata dokter kalau tidak nafsu makan, pisang bisa jadi pengganti."Maryam mengangguk, tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Dia merasakan sendiri bagaimana muramnya ru
Jalanan begitu padat sore ini. Bhaga berulang kali menekan klakson dan menyalip mobil di depannya. Dia meninggalkan sopirnya di kantor, dan pulang dengan terburu-buru.Pikirannya terus berputar pada kalimat Maryam tadi saat meneleponnya. “Nona Binar pingsan, Tuan.”Tak pikir panjang, rapat yang baru berjalan sebentar langsung ditinggalkan. Membiarkan Rudi untuk mengurus sisa pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.“Astaga, ini kenapa macet banget, sih,” gerutunya sendiri sejak tadi.Hatinya tak tenang. Binar jarang sakit, dan kalau sampai pingsan, itu artinya tubuhnya sudah sampai pada batasnya.“Sayang, kamu kenapa?” Dia mengusak rambutnya beberapa kali, sedang tangan satunya memegang setir dengan kuat. Frustrasi."Tuan, Nona Binar pingsan di dapur. Saya sudah memindahkan ke sofa. Tapi tidak mau dibawa ke dokter. Katanya cuma pusing."Dia menghela napas kasar. Membayangkan betapa keras kepalanya Binar bila sudah memutuskan.Di dalam mobil, dia mencoba menelepon Binar. Tidak dia
Sudah sejak bangun tidur, kepala Binar rasanya berdenyut. Pusing hebat, tapi dia tak bilang pada siapa-siapa dan tetap melakoni rutinitasnya meski sesekali berhenti sejenak untuk meredakan nyeri yang kuat.Ini bukan pertama kalinya. Beberapa hari belakangan sejak jadwalnya mulai padat, dia tak bisa benar-benar istirahat. Dia bahkan bangun tidur dengan rasa pegal yang masih merayapi tubuhnya. Tidurnya kurang, makan tidak teratur, dan tak bisa lagi sekedar duduk santai untuk menjeda napas.Kopi tidak lagi membantu. Hanya menyisakan tambahan perih di perutnya.Dia bahkan masih menguap saat mengantarArdan ke mobil dan bersiap untuk kelas pertama pagi itu.Kesehariannya sudah berjalan dengan ritme yang sudah di luar kepala. Terlebih Ardan yang tiba-tiba rewel karena stegosaurusnya ketinggalan, hingga Binar harus mampir ke sekolahan anak itu untuk mengantar mainannya.Di dalam mobil, kepalanya masih berdenyut, tapi dia hanya memasang wajah datar. Tersenyum saat bertemu Ardan dan tetap bersi
Malam itu, setelah Ardan tidur, mereka duduk di teras. Bhaga memegang tangan Binar."Aku pasti tidak akan bisa jawab pertanyaan Ardan."Binar menoleh. "Kamu dengar?""Aku dengar." Bhaga menggenggam tangannya lebih erat. "Aku tidak akan bisa jawab sejelas kamu."Binar diam." Aku... aku tidak akan bisa melakukan itu."Binar memegang balik tangannya. "Kamu bisa. Hanya butuh sedikit kesabaran."Bhaga tersenyum getir. "Mungkin."Mereka diam sebentar. Angin malam berhembus, dingin."Aku sering marah pada Celia," kata Bhaga akhirnya. "Bahkan sampai sekarang. Marah karena dia meninggalkan Ardan. Marah karena dia menyakitimu. Marah karena dia... membuat semua ini jadi begitu rumit."Tak ada sahutan."Tapi kamu bilang dia sakit. Bukan jahat." Bhaga menatap langit. "Aku tidak pernah memikirkannya seperti itu. Aku selalu melihatnya sebagai pilihan.""Kadang sakit juga pilihan."Bhaga menoleh."Tapi bukan pilihan yang dia buat dengan sadar." Binar menatapnya. "Aku tidak membenarkan apa yang Celia
Pelakor.Kata itu masih menggantung di udara, meskipun Ardan sudah tidak lagi memikirkannya. Tapi Binar tahu, untuk anak seusianya, kata-kata seperti itu bisa masuk lebih dalam dari yang kita kira.Malam itu, setelah Ardan tidur, Binar masih duduk di meja makan. Sisa-sisa camilan sore belum dibereskan. Gelas susu Ardan masih di tempatnya, dengan sisa putih di dasar.Bhaga masuk. Duduk di sebelahnya."Mereka bilang pelakor," kata Binar sebelum Bhaga bertanya. "Ardan dengar dari ibu-ibu di sekolah."Bhaga diam. Tapi rahangnya bergerak."Aku sudah jelaskan ke Ardan," lanjut Binar. "Dia paham.""Kamu jelaskan bagaimana?"Binar menatapnya. "Bicara apa adanya saja."Tapi cerita sore itu tidak selesai di meja makan. Dan Bhaga, yang berdiri di balik pintu dapur saat itu, masih mengingat setiap kata.Sore itu, setelah Ardan bertanya, setelah kata pelakor keluar dari mulut anak enam tahun itu, Binar tidak panik.Dia duduk di samping Ardan, satu tangan merangkul bocah itu, tangan satunya di atas
Tak seperti biasanya, pagi ini Ardan berangkat sekolah dengan riang. Dia sibuk berceloteh tentang banyak hal kepada Maryam sambil sesekali melompat kecil ketika berjalan ke arah mobil."Bi, Ardan bawa gambar semalam ke sekolah. Bu Guru pasti suka."Maryam hanya tersenyum, menanggapi dengan jawaban singkat, menggandeng tangan kecil itu menuju halaman depan.Setelah mobil yang mengantar Ardan keluar gerbang, Maryam menyusul keluar dengan mobil lain untuk berbelanja, dan pelayan di rumah sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.Rumah utama hanya berisi Bhaga dan Binar, dengan amplop putih yang semalaman mengganggu pikiran mereka berdua.Bhaga duduk di meja makan.Amplop itu sudah di depannya sejak tadi, diletakkan agak ke tengah meja. Tangan kanannya terus memegang cangkir kopi hitam, tapi tak juga meminumnya.Binar duduk di sebelahnya. Menyesap teh hangat dalam diam.Tidak ada yang berbicara dulu. Lalu Bhaga mengambil amplop itu.Dia membukanya dengan rapi. Tidak disobek. Lalu dik
Binar tersentak saat suara langkah itu terdengar mendekat. Lantai dingin di gudang itu membuat telapak kakinya kebas. Tangannya masih terikat di belakang kursi logam, wajahnya lebam di beberapa tempat, dan napasnya memburu. Bau darah kering dan debu tercium menyengat, membuatnya sedikit sesak. C
Pagi ini udara terasa begitu tercekat di ruang keluarga yang biasanya terasa damai. Bhaga sudah berdiri di dekat pintu bersiap untuk ke kantor, mengenakan setelan jas abu-abu yang sempurna, tapi wajahnya terlihat pucat dan kantong mata yang menghitam. Di belakangnya, Celia turun dari tangga dengan
Nurma memijit pelipisnya, berusaha meredakan sakit kepala yang dirasakan sejak hari ulang tahun cucunya. Sudah sekian hari berlalu sejak itu."Rasanya seperti angin lalu saja mereka bertemu, Nyonya besar." keluh Sari pada Nurma yang sedang mengawasi mereka membereskan dapur."Setelah pesta ulang ta
“Boleh aku minta jatahku sekarang?”Suara serak Bhaga membuat Binar memerah malu. Dia ingat, tadi pagi Bhaga belum mendapat pemuasan hasratnya, dan dia malah membantu Binar ke toilet.‘Jatah’ dia bilang. Seolah hubungan mereka adalah sepasang suami-istri yang saling memuaskan nafkah batin. Seolah b







