首頁 / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 350. Terombang-ambing Kenikmatan

分享

350. Terombang-ambing Kenikmatan

作者: Keke Chris
last update publish date: 2026-06-21 02:00:24

Bhaga beralih menciumi sepanjang kaki Binar, naik perlahan dari betis sampai ke paha. Tanpa banyak bicara, dia mencengkeram dan membuka paha Binar lebar-lebar dengan gerakan yang agak kasar. Tangannya tak berhenti mengelus dan menggoda setiap inci kulit kaki Binar. Sentuhan dan ciuman Bhaga yang mulai menyusuri bagian dalam pahanya membuat napas Binar makin memburu.

Sesaat kemudian, Bhaga menarik lepas celana dalam dan pakaian tidur Binar dengan satu tarikan cepat. Dia melanjutkan ciumannya, ka
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Di Ranjang Majikanku   351. Kamu Sudah Hadir

    Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Bhaga benar-benar menepati janjinya. Dia perlahan berubah dan perubahan itu juga terjadi secara pelan dan bertahan. Hal itu membuat semua berubah lebih baik dan menjadi lebih menyenangkan.Awalnya, Bhaga hanya pulang lebih cepat dari biasanya. Bukan karena rapat batal, tapi karena dia sadar bahwa waktu yang dimiliki dengan anaknya tidak pernah cukup.Sekarang, dia mulai pulang sebelum malam benar-benar turun.Binar tidak pernah banyak bertanya. Dia hanya menatap Bhaga, tersenyum bangga, lalu kembali ke apa yang sedang dia kerjakan. Bhaga tidak menjelaskan. Dia hanya meletakkan jas di sofa, mencuci tangan, lalu duduk di ruang keluarga, menemani Ardan bermain.Di hari-hari berikutnya, pola itu mulai terulang. Bhaga pulang lebih awal. Dia tidak langsung ke kamar atau ruang kerja, tapi memilih duduk di ruang keluarga, atau ke dapur.Ardan awalnya tidak langsung percaya dan ragu. Minggu pertama, dia masih kikuk. Kadang dia menatap Bhaga dengan ek

  • Di Ranjang Majikanku   350. Terombang-ambing Kenikmatan

    Bhaga beralih menciumi sepanjang kaki Binar, naik perlahan dari betis sampai ke paha. Tanpa banyak bicara, dia mencengkeram dan membuka paha Binar lebar-lebar dengan gerakan yang agak kasar. Tangannya tak berhenti mengelus dan menggoda setiap inci kulit kaki Binar. Sentuhan dan ciuman Bhaga yang mulai menyusuri bagian dalam pahanya membuat napas Binar makin memburu.Sesaat kemudian, Bhaga menarik lepas celana dalam dan pakaian tidur Binar dengan satu tarikan cepat. Dia melanjutkan ciumannya, kali ini lebih dalam dan intens langsung pada titik sensitif. Sengaja menggoda dengan lidahnya yang menjilat panjang dari bawah ke atas, lalu berputar dan menyedot inti kewanitaan Binar dengan rakus.Binar refleks melengkungkan tubuhnya, membusung ke atas dengan kepala mendongak. Satu tangannya menahan tubuhnya, dan satu lagi sudah masuk ke sela rambut Bhaga dan sesekali menjambaknya. Mulutnya setengah terbuka, menikmati sensasi yang menjalar di seluruh tubuhnya. Lidah Bhaga begitu lihai menari, m

  • Di Ranjang Majikanku   349. Aku Suka Kamu Kasar

    Mereka tidak banyak bicara setelah itu. Benar-benar menikmati waktu kebersamaan mereka yang sudah lama tak dilakukan.Waktu berlalu, Binar beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sementara Bhaga tetap diam di sofa sampai Ardan terbangun sendiri. Bocah itu sempat kebingungan saat sadar dia tidur di pangkuan papanya, sebelum akhirnya langsung mengeluh lapar.Bhaga langsung memegangi dan menggendong Ardan menuju meja makan. Ardan langsung protes karena merasa sudah bukan anak kecil lagi."Ardan bukan bayi, Pah!""Iya, tahu. Tapi papa lagi mau gendong."Meski terus protes, Ardan tidak benar-benar berontak atau minta turun.Dari arah dapur, Binar mendengar perdebatan kecil itu. Dia tidak menoleh, tapi ada rasa hangat yang mendadak memenuhi dadanya.Malam itu, setelah Ardan dipastikan tidur, Bhaga masuk ke kamar lebih awal dari biasanya. Dia bahkan tak terpikir untuk berbelok ke ruang kerja seperti sebelumnya.Binar yang sedang duduk di depan meja rias sambil melepas jepit rambutnya

  • Di Ranjang Majikanku   348. Kalau Ada Papa, Lebih Menyenangkan

    Ardan menoleh. Pertanyaan itu terdengar asing, apalagi keluar dari mulut papanya yang jarang menanyakan hal-hal seperti itu. "Artinya apa?""Kalau Papa pulangnya malam terus, atau kalau Papa lagi sibuk, kamu enggak apa-apa?"Ardan menatap Bhaga, ekspresinya terlihat seperti berpikir sambil bersungut-sungut lucu. "Kan ada Bunda Binar," jawabnya akhirnya. "Kalau ada bunda, Ardan enggak apa-apa."Bhaga terdiam beberapa saat. Dia lupa Ardan sudah begitu lekat dengan Binar. Jika sampai Binar juga meninggalkan mereka seperti Celia, maka akan jadi apa mereka."Tapi kalau ada Papa, Ardan lebih seneng lagi," tambah Ardan dengan nada santai. Setelah itu, matanya sudah kembali fokus ke TV.Dia tak tahu kalau kalimatnya telah menohok Bhaga dengan dalam. Penyesalan mulai menyeruak perlahan di relung hatinya.Bhaga menatap anaknya yang menonton kartun dengan serius di sebelahnya. Anak yang masih dianggapnya bayi, sudah bisa bilang yang paling penting dengan cara yang paling sederhana.**Binar pula

  • Di Ranjang Majikanku   347. Apa Kau Baik-baik Saja

    Keesokan harinya, gerimis tipis mengguyur daerah Jakarta Barat.Bhaga turun dari mobilnya tepat di depan gerbang sebuah rumah duka bernuansa putih. Di kanan-kiri selasar, deretan karangan bunga sudah berjejer rapat, termasuk satu yang paling besar di dekat pintu masuk, kiriman darinya.Bhaga berjalan masuk dengan langkah tenang. Suasana di dalam ruangan sangat sunyi, hanya terdengar isak tangis samar dan gumaman doa dari beberapa pelayat yang datang lebih awal.Di ujung ruangan, di dekat peti mati yang masih terbuka, berdiri Hendra. Manajer seniornya itu kelihatan jauh lebih tua hari ini. Bahunya yang biasa tegak saat presentasi laporan kini merosot, matanya merah dan sembap, menatap kosong ke arah foto anak laki-lakinya yang tersenyum di atas meja altar.Begitu menyadari kehadiran Bhaga, Hendra tampak terkejut. Dia buru-buru menyeka matanya dan mencoba menegakkan tubuh."Pak... Pak Bhaga," suara Hendra serak, hampir habis. Dia menjabat tangan Bhaga dengan gemetar. "Terima kasih banya

  • Di Ranjang Majikanku   346. Senyuman Ardan

    Pintu depan terbuka, Binar masuk sambil menenteng tas. Di depan tadi, dia sempat tertegun begitu melihat mobil Bhaga ada di garasi, dan sekarang mendapati pria itu sedang duduk di sofa ruang tengah dengan kemeja yang lengannya sudah digulung. "Kamu sudah pulang?" tanya Binar heran. Dia melirik jam dinding, baru jam dua lewat sedikit. "Katanya tadi ada meeting siang?" "Aku minta Rudi batalin semuanya," jawab Bhaga dengan santai. Dia berdiri dari sofa, mengambil kunci mobilnya di meja. "Ayo. Katanya mau ke sekolah Ardan berdua?" Binar menatap Bhaga sebentar, dia mengernyit mencoba membaca ekspresi pria itu yang tampak lebih mawas dari biasanya. Namun, dia tidak bertanya lebih jauh. "Iya, sebentar. Aku taruh ini dulu." Dua puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di sekolah Ardan. Suasana sekolah sudah mulai ramai oleh para penjemput karena jam pulang sekolah tinggal beberapa menit lagi. Bhaga dan Binar berjalan menyusuri koridor kelas menuju ruang guru. Langkah Bhaga yang tegap da

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status