“Papa…” Arunika langsung memeluk Elvaro begitu pria itu masuk ke butik. Pelukan itu hangat, khas anak yang sangat dekat dengan ayahnya. Senyumnya merekah, matanya berbinar.Elvaro membalas pelukan itu dengan lembut. “Kaivan nggak temenin?”Arunika menggeleng kecil. “Enggak. Dia dipanggil papanya, katanya ada masalah sama kantornya.”Elvaro mengangguk paham. Tatapannya lalu bergeser ke arah Rena yang berdiri di dekat meja kasir.“Siang, Om,” sapa Rena dengan ramah.“Siang, Rena.” Elvaro tersenyum sopan. “Butiknya makin besar aja.”Rena terkekeh sambil memutar bola mata. “Ya beginilah, Om. Usaha bareng mama. Jangan lupa loh, nanti kalau Om mau ada acara lamaran atau pesta keluarga, bisa banget ke butik. Diskon spesial, janji!”Elvaro ikut terkekeh, nada suaranya enteng. “Gampang, tinggal bilang.”“Pa, ayo!” rengek Arunika, memegang lengan Elvaro. “Aku udah lapar banget nih!”Elvaro tersenyum, mengusap puncak kepala putrinya sekilas. “Ya sudah, ayo.” Ia pun menggandeng Arunika menuju pin
Last Updated : 2025-11-26 Read more