Pa… sakit!” Yara meringis keras, tangannya refleks memegangi perutnya. Tarikan Shandy terlalu kasar, membuat nyeri itu seperti mencengkeram dari dalam. Tapi Shandy yang dikuasai amarah tak melihat, tak mendengar, tak merasa apa pun selain murka seorang ayah yang merasa anak gadisnya dipermainkan.“Pulang!” dengus Shandy, membuka pintu apartemen.Yara hampir terseret keluar ketika seseorang datang tergopoh, napas terengah.“Mas Elvaro…?” bisik Yara dengan mata melebar.Elvaro berhenti tepat di depan mereka. Napasnya kacau, wajahnya gelisah. Tatapannya langsung tertuju pada Yara—pucat, gemetar, memegangi perut sambil menahan tangis.“Pak Shandy… tenang dulu, Pak. Kita bisa bicar—”Shandy memutar tubuh, menyembunyikan Yara di belakangnya, seperti seekor serigala yang melindungi anaknya dari predator. Tapi tatapan Shandy bukan takut—tatapannya penuh benci.“Oh….” Shandy mendesis sambil mengangguk perlahan, senyumnya sinis. “Ternyata di sini bajingan itu.”Kening Elvaro berkerut, napasnya
Last Updated : 2025-12-04 Read more