Di saung, suasana terasa agak menggantung setelah langkah Raga dan perempuan itu menghilang di tangga. Televisi masih menyala, tapi suaranya nyaris tak diperhatikan. Ningsih menyandarkan punggung ke tiang saung, satu kakinya dilipat ke atas bangku, sementara Wulan duduk lebih ke depan, siku bertumpu di paha. Pandangan Wulan berkali-kali naik ke lantai dua. Bukan menatap satu titik, tapi mengikuti imajinasinya sendiri. “Wah,” ucap Ningsih akhirnya, memecah keheningan. “Keliatannya bakal penuh tuh lantai atas.” Wulan mengangguk pelan, tapi matanya masih belum turun. “Iya, Mbak,” jawabnya lirih. “Sekarang aja udah rame.” Ningsih melirik Wulan dari samping. Ia menangkap nada yang sedikit turun di kalimat terakhir. “Eh,” katanya sambil tersenyum setengah menggoda. “Jangan-jangan nanti bakal jadi saingan kamu lagi.” Wulan langsung menoleh. “Ihh, Mbak,” katanya cepat. “Ngaco deh.” Meski begitu, pipinya sedikit merah. Ia menghela napas pendek, lalu menunduk. “Jangan sampe,” gum
Last Updated : 2026-01-01 Read more