Pagi itu, cahaya matahari merayap masuk melalui celah gorden kamar, menyinari seprai putih yang menutupi dua tubuh yang saling memeluk. Ares masih tidur pulas, satu tangannya melingkar erat di pinggang Raya—posisi favorit mereka sejak menikah. Napasnya teratur, wajahnya damai, sangat berbeda dengan ekspresi dingin yang biasa ia tunjukkan pada dunia luar. Raya sudah terbangun sejak beberapa menit lalu, tapi ia tidak bergeming—takut membangunkan suaminya yang jarang sekali tidur nyenyak seperti ini. Drrttt Drrrttt... Ponsel di nakas bergetar keras, layarnya menyala terang. Raya mengernyit, melirik jam dinding—pukul delapan lebih lima belas menit pagi. "Aku kesiangan lagi," gumamnya pelan Ia mencoba meraih ponsel Ares, tapi lengan yang melingkari pinggangnya begitu kuat, seperti anaconda yang tidak mau melepaskan mangsanya. "Ares," bisik Raya sambil menggoyangkan bahu suaminya pelan. "Ares, bangun." Ares hanya bergumam tidak jelas, malah semakin mempererat pelukannya, menarik tub
Terakhir Diperbarui : 2026-01-22 Baca selengkapnya