Share

Bab 81 Terciduk

Author: J Shara
last update publish date: 2026-01-01 17:25:45

Hening.

Hanya suara detak jam mahal di dinding yang terdengar di ruang tengah rumah megah milik Nathan. Pria itu duduk di sofa hitamnya, bersandar sambil menatap langit-langit seperti sedang mencari jawaban di antara guratan ukiran modern di sana.

“Hhh…”

Helaan napasnya kembali terdengar—yang entah untuk yang keberapa kali.

Rumah itu terlalu besar. Terlalu sunyi. Terlalu kosong.

Nathan mengedip pelan. “Kenapa sepi sekali…” gumamnya lirih.

Ia memejamkan mata. Dan… seolah otaknya me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 190 Benang yang Kusut

    ​Lampu meja kerja Ariel berpendar kekuningan, kontras dengan kegelapan apartemennya yang hanya disinari lampu jalan dari balik jendela. Jemarinya menari di atas papan ketik, mencoba merangkai kembali kata-kata dalam draf novel lamanya yang sempat terbengkalai. Menulis selalu menjadi pelarian baginya—sebuah dunia di mana ia bisa mengatur takdir setiap karakter tanpa harus merasa sakit hati.​Namun, fokusnya pecah.​Tiba-tiba, sebuah rasa tidak nyaman naik dari perut menuju pangkal kerongkongannya. Rasa asam yang tajam membuatnya tersedak. Ariel menutup mulutnya rapat-rapat, mendorong kursi kerjanya hingga berderit keras, dan berlari menuju kamar mandi.​“Hoekk!”​Ia mencengkeram pinggiran wastafel porselen yang dingin. Tubuhnya gemetar saat ia memuntahkan cairan bening. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak. Setelah beberapa menit yang menyiksa, ia membasuh wajahnya dengan air dingin, menatap pantulan dirinya di cermin yang kini tampak pucat pasi.​“Apa maagku kambuh ya?” gumamnya p

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 189 Empat Tahun Lamanya

    Keheningan di ruang makan itu mendadak terasa begitu tebal.Dr. Kara menatap Ariel dengan waspada, matanya tajam seperti sedang mengukur sesuatu yang tidak terlihat. Sementara itu Ariel hanya membalas tatapan itu dengan senyum lembut, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.Lalu tiba-tiba—Ariel terkekeh kecil.“Aduh… kenapa jadi serius begini?” katanya ringan sambil melambaikan tangan. “Aku kan cuma bercanda, Dokter. Kita makan dulu saja, ya.”Nada suaranya santai, hampir seperti anak kecil yang baru saja melempar gurauan.Nathan menatap Ariel lama, mencoba membaca ekspresinya. Ia tidak yakin apakah ucapan tadi benar-benar hanya candaan.Dr. Kara memaksakan senyum tipis.“Oh… tentu,” katanya.Namun suasana sudah terlanjur berubah.Dentang sendok dan garpu kembali terdengar, tapi kini terasa canggung. Tidak ada lagi percakapan ringan. Nathan hanya makan sedikit, lebih sering melirik Ariel dari sudut matanya.Sementara Kara...Kara sama sekali tidak berselera makan lagi.Ia hanya mengad

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 188 Bagaimana Jika

    Aroma sisa hujan semalam masih tertinggal di udara ketika Ariel menekan tombol send di laptopnya. Jantungnya bertalu-talu. Sebuah subjek email singkat: Naskah Final - Teach Me How, Doctor.Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tak bisa dibendung. Akhirnya. Setelah semua drama dengan Matthew, setelah air mata dan penolakan dari London, naskah yang sebenarnya telah ia rintis jauh sebelum badai itu datang kini rampung. Ini bukan sekadar buku; ini adalah katarsis. Sebuah cerita tentang seorang wanita yang belajar menemukan suaranya di bawah bimbingan seorang pria yang dingin namun menghanyutkan—sebuah cerminan yang terlalu nyata dari apa yang ia alami bersama Nathan."Sudah selesai, Pak George," bisik Ariel pada ruangan yang sepi. Ia tidak tahu apakah Matthew akan mengizinkan naskah ini terbit, atau apakah Pak George punya cukup keberanian untuk meloloskannya. Tapi baginya, keberhasilan menyelesaikan kalimat terakhir adalah kemenangan mutlak.Ar

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 187 Penolakan

    Mimpi itu terasa begitu nyata—sentuhan kasar namun protektif dari jemari Nathan, aroma sandalwood yang memabukkan, hingga sensasi sofa kulit yang dingin beradu dengan kulitnya yang membara. Ariel terbangun dengan napas tersengal, dadanya naik turun di bawah selimut tipis kamarnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia mengerang pelan, menutupi wajahnya dengan bantal, mencoba mengusir sisa-sisa bayangan Nathan yang seolah masih berbisik di telinganya tentang "pelajaran bercinta." ​Namun, realita pagi ini tidak semanis mimpinya. Cahaya matahari yang menusuk celah gorden seakan mengejek kegagalannya. Ariel meraih ponselnya, membaca kembali email dari London yang ia terima kemarin. ​"Kami menghargai keberanian teknik narasi Anda, namun sayangnya, naskah ini belum sesuai dengan daftar publikasi kami saat ini..." ​Kalimat penolakan yang standar, namun bagi Ariel, itu rasanya seperti hantaman godam. Ia merasa semua "eksplorasi" yang ia lakukan bersama Nathan, semua risiko emosional yan

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 186 Desahan Tiada Henti

    Ariel menggigit bibir bawahnya, jantungnya berdegup kencang. Sudah berbulan-bulan mereka tidak bercinta, Nathan ingin "mengajar" dia seolah dia masih gadis lugu. "Nathan... aku... aku tidak yakin," gumamnya, tapi matanya tak bisa lepas dari tubuh pria itu. Nathan tertawa pelan, mendekat dan berlutut di depan sofa, tangannya merayap naik ke paha Ariel yang tertutup dress. "Takut? Bagus. Itu artinya kamu siap belajar. Buka kakimu lebar-lebar buat aku, Ariel. Biar aku lihat betapa basahnya kamu udah nunggu kontolku."Dengan tangan gemetar, Ariel patuh membuka kakinya, dressnya tersingkap perlahan memperlihatkan paha mulus dan celana dalam tipis berwarna putih yang sudah lembab di tengah. Nathan mendesis puas, jarinya menyusuri garis celana dalam itu, menekan lembut ke liangnya yang sudah bengkak. "Lihat nih, udah basah. Kamu mau menutupinya tapi tubuhmu jujur." Ia menarik kepala Ariel mendekat, menciumnya ganas—lidahnya menyerbu mulut gadis itu, menari liar sambil tangannya meremas pa

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 185 Memulai Pelajaran Panas Lagi

    Ruangan itu terasa semakin menyempit, hanya menyisakan ruang bagi aroma sandalwood yang maskulin dan deru napas yang saling memburu. Nathan tidak memberikan kesempatan bagi Ariel untuk menarik napas dalam-dalam. Ia mengunci pergerakan Ariel dengan dominasi yang tenang, namun mematikan.​"Tidakkah kau merindukan saat kita belajar bercinta, Ariel...?" bisik Nathan. Suaranya rendah, bergetar di dekat daun telinga Ariel, mengirimkan gelombang elektrik yang melumpuhkan saraf-saraf logika wanita itu.​Wajah Ariel merona hebat, panasnya menjalar hingga ke ujung telinga. Ia menelan ludah yang terasa kering di kerongkongannya. "Be-belajar bercinta?" tanya Ariel malu, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan apartemen yang mewah itu. Matanya yang bulat menatap Nathan dengan campuran antara rasa tidak percaya dan rasa ingin tahu yang terlarang.​Nathan menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang penuh arti. "Ya... belajar. Seperti naskahmu yang butuh revisi, tubuh dan perasaanmu juga bu

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 44 Hujan dan Hasrat

    Mobil Nathan melaju cepat ketika meninggalkan kawasan mall itu. Ariel duduk gelisah di kursinya, tangan meremas ujung dress yang ia kenakan. Ia menunduk, rambutnya jatuh ke depan wajah, menutupi pipi yang merah sejak mereka meninggalkan toko itu.Nathan menyetir dengan wajah serius, rahang tegang,

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 34 Ah, Nikmat di Atas

    Ariel mengingat lagi adegan di video dewasa, wanita yang berada di posisi atas menggerakkan pinggulnya persis seperti gerakan mengulek. Ariel lalu mencobanya, menekan milik Nathan yang sudah terbenam di dalam dirinya lalu memajukan pinggulnya.“Ugh…”Mata Ariel membulat, tak menyangka posisi dan ge

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 32 Bantuan Lagi

    Ariel duduk di ujung sofa apartemen Nathan, berusaha menenangkan dirinya walau jantungnya berdentum seperti hendak melompat keluar. Tangannya saling menggenggam erat, dingin oleh gugup. Apartemen itu begitu sunyi—hanya terdengar dengung AC dan sesekali bunyi kendaraan dari luar jendela.Nathan, yan

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 33 Seperti di Video

    “Ah… ah… ah…”Ariel menatap layar handphone yang Nathan pegang di sampingnya. Desahan dan Gerak di video itu membuat darah wanita itu berdesir apalagi ia menontonnya berdua bersama sang dokter.Beberapa menit kemudian adegan video itu akhirnya usai dan Nathan meletakkan handphonenya di atas nakas.

    last updateLast Updated : 2026-03-19
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status