“Sudah, sudah, Sherry. Sudah, ya? Jangan marah lagi. Aku cuma mengusulkan saja.”Nada suara Kaiser terdengar hati-hati, seolah satu kata yang salah bisa membuatku kembali meledak. "Huu, kamu, sih."Aku mendengus kecil, memalingkan wajah ke arah jendela, lampu-lampu kota di luar terlihat kabur karena mataku masih panas.“Sudahlah, jangan bahas mereka lagi,” kataku ketus. “Aku cuma butuh bantuanmu. Kalau kamu tidak mau, ya sudah. Aku akan melakukannya sendiri.”“Hey, bukan begitu, Sherry,” jawab Kaiser cepat. “Aku akan membantumu. Aku sudah janji, kan? Aku selalu ada di belakang kamu. Mana mungkin aku membiarkan kamu sendirian, Sherry?"Ucapan Kaiser membuat aku menarik napas panjang dengan bibir cemberut."Iya, tapi jangan bahas Aaron lagi. Aku kesal hanya mendengar namanya," dengusku, yang membuat Kaiser hanya bisa menggaruk kepalanya. Nama itu seperti duri. Tidak menyakitkan secara fisik, tapi cukup untuk membuat dadaku berdenyut tak nyaman.“Iya, iya, Sherry. Iya."Kaiser mengang
ปรับปรุงล่าสุด : 2025-12-17 อ่านเพิ่มเติม