“Kak Aaron…” panggilku pelan. Reflek bangkit dan berjalan ke arahnya. Aaron menatapku beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Wajahnya dingin, rahangnya mengeras. Ada sesuatu di matanya, bukan rindu, bukan lega, melainkan kemarahan yang belum sempat meledak.Aku tak tahan melihat ekspresi itu, jadi aku melangkah lebih cepat. “Kak Aaron—”Denga mata berkaca-kaca, yanganku terulur, ingin memeluknya, ingin memastikan semua ini nyata, ingin berlindung seperti biasanya.Namun, sebelum lenganku sempat menjangkau dirinya, Aaron tiba-tiba melangkah mundur satu langkah.Aku terpaku saat hanya memeluk udara kosong, sedangkan Aaron sama sekali tidak menatapku. Pandangannya beralih tajam ke Kaiser, tatapan itu menusuk, dingin, penuh permusuhan.“Berani sekali kamu,” ucap Aaron pelan, tapi setiap katanya terasa seperti pisau. “Mempermainkan aku.”Aku menoleh ke Kaiser dengan panik, mencoba membelanya. “Kak, bukan begitu—”“Diam dulu, Sherry,” potong Aaron tanpa menoleh. Nadanya dat
Last Updated : 2025-12-14 Read more