ログインRumah tangga Aaron dan Sherry berjalan seperti biasa. Aaron tetap jadi ayah yang luar biasa sibuk dengan Nathan yang mulai berlari ke mana-mana. Tapi dia juga berusaha memberi perhatian lebih pada Sherry. Namun Sherry entah kenapa merasa… ada yang ganjil, bukan dari Aaron, tapi dari dalam dirinya sendiri.Itu semua karena sebuah insiden tak terduga Siang itu, acara arisan bulanan di rumah Rina, teman SMA Sherry. Sherry sebenarnya malas datang. Nathan sedang rewel karena tumbuh gigi, dan dia kurang tidur semalaman. Tapi Rina sudah mendesak sejak seminggu lalu, "Kali ini wajib dateng, semua teman lama hadir!" Karena hal itu, dengan sangat terpaksa, Sherry pun datang, Aaron menjaga Nathan di rumah dan di ruang tamu Rina yang mewah itu, Sherry duduk di antara lima perempuan yang sudah seperti saudara sendiri. Awalnya biasa saja, mereka membicarakan gosip artis, resep masakan, atau cerita anak masing masing. Lalu Nyonya Dewi, wanitakaya berusia 40-an yang terkenal blak-blakan, tib
"Bukti? Bukti tentang apa yang kamu maksud, Audrey!"Vanya bertanya dengan marah, marah karena Audrey terus menerus mengganggu Mia, bahkan tak memedulikan fakta bahwa anak itu masih belum sepuluh tahun."Vanya, aku punya bukti yang membuat kamu tak mungkin bisa berkutik lagi," ucapnya sambil tersenyum mengejek. Audrey lantas mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah foto. Vanya dan dua orang tua di sebuah restoran mewah. Vanya terlihat serius, kedua orang tuanya juga serius. Tidak ada senyum. Terlihat seperti pertemuan bisnis. Mia menatap foto itu dan matanya mulai berkaca kaca."Ini....""Iya, Mia. Lihat baik-baik apa yang aku bawa, aku melakukan ini demi kebaikanmu, Mia," ujar Audrey sambil tersenyum menang ke arah Vanya yang tak sanggup berkata-kata.Mata Mia mulai basah, dia menatap Vanya dengan kekecewaan yang tercetak jelas di wajah mungilnya. "Tante Vanya... boong?" bisik Mia."Tante udah bohongin aku?"" Seketika itu juga, saat melihat Mia yang mulai menangis, Arsion
"Kamu merendah, Arsion. Tapi aku lihat semuanya. Aku lihat bagaimana kamu menyuapi Mia, bagaimana kamu mengelus rambutnya, bagaimana kamu melindunginya dari Tante Tante Hiu." Vanya mendekat, lalu melanjutkan ucapannya."Aku tidak takut, Arsion. Aku tidak akan pergi. Tapi aku perlu kamu tahu, aku di sini karena aku mencintai kalian berdua. Bukan karena kasihan. Bukan karena aku ingin memperbaiki Mia. Tapi karena Mia mengajarkanku arti ketulusan, dan kamu mengajarkanku arti pengorbanan." Arsion berjalan mengelilingi meja. Ia berdiri di hadapan Vanya, hanya satu langkah jaraknya. "Kamu tahu resikonya? Aaron bisa suatu hari datang dan minta Mia kembali. Sherry bisa mengubah pikirannya. Aku tidak punya hak hukum atas Mia." "Aku tahu." "Dan kamu tetap mau?" Vanya mengangkat tangannya, meletakkan telapak tangannya di dada Arsion. Jantung pria itu berdetak kencang. "Aku sudah jatuh cinta pada Mia sejak pertama kali dia bilang aku wanginya kayak melati. Dan aku sudah jatuh cinta pad
Sherry menarik napas panjang, lalu melanjutkan ucapannya. "Mia bukan anak Arsion, kamu pasti sudah tahu hal itu, kan? Mia sebenarnya anak Aaron, suamiku. Tapi Mia... Mia tidak seharusnya lahir dengan cara itu. Mia adalah hasil rekayasa ayah Arsion dan Aaron, tuan Rhodes. Dia menyewa seorang perempuan untuk menaruh benih Aaron ke rahim perempuan itu tanpa sepengetahuan Aaron." Vanya terdiam mendengar penjelasan Sherry, dunia terasa berputar di bawah kakinya. "Aaron awalnya kaget, aku juga kaget. Tapi aku akhirnya bisa menerima kehadiran Mia, tapi Aaron tidak pernah bisa sepenuhnya dekat dengan Mia. Bukan karena dia benci. Dia hanya... bingung. Mia adalah pengingat akan pengkhianatan ayahnya sendiri. Sementara Nathan, yang lahir setelah kami menikah, adalah anak yang dia inginkan sejak awal." Sherry terisak pelan saat menjelaskan hal itu kepada Vanya."Aaron tidak pernah membenci Mia, Vanya. Dia menyekolahkan Mia, memberi Mia uang jajan, membelikan Mia mainan. Tapi perhatiannya..
Dua hari setelah malam itu, sebuah amplop coklat dikirim ke meja Vanya tanpa nama pengirim. Di dalamnya berisi foto foto lama. Foto Arsion muda bersama seorang pria yang sangat mirip dengannya, sama sama tinggi, tapi pria itu memiliki senyum yang lebih cerah. Di belakang foto, tulisan tangan mungil: "Aaron & Sherry. Sebelum pernikahan." Vanya membalik foto satu per satu. Ada foto Aaron dan Sherry berpelukan di depan pelaminan, foto Sherry menggendong bayi laki laki dengan wajah sumringah, lalu foto yang berbeda. Foto Sherry menggendong Mia kecil di pangkuannya sambil menatap Aaron yang sedang menggendong Nathan. Aaron tersenyum pada Nathan, tapi tidak pada Mia. Bukan karena benci. Hanya karena... fokusnya terbelah. Foto terakhir membuat Vanya terhenyak. Arsion sedang menggendong Mia yang masih balita. Wajah Arsion tidak dingin seperti biasanya. Ia tersenyum. Senyum yang lelah tapi penuh kasih. Mia tertidur di pundaknya, tangan mungilnya memegang erat kerah kemeja Arsion. Di be
Vanya mengangkat wajahnya, matanya merah, lalu bertanya dengan suara gemetar."Kamu janji?" "Janji." Ia berbalik, mengambil tasnya dari meja, lalu berjalan ke pintu. Namun di ambang pintu, ia berhenti. Tanpa menoleh, ia berkata dengan suara serak. "Arsion." "Hm?" "Aku juga... merasakan sesuatu. Tapi tolong jangan membuatku menyesal," ucapnya, sebelum melangkah keluar. Langkah kakinya menggema di koridor sepi, perlahan menjauh. Arsion berdiri di ruang Vanya yang masih hangat. Di meja kerjanya, ia melihat sebuah sketsa kecil. Gambar dua orang dewasa dan satu anak kecil di depan rumah tersenyum. Sama persis dengan yang digambar Mia, tapi kali ini digambar ulang oleh tangan Vanya dengan detail lebih indah. Wanita itu menyimpan gambar Mia di mejanya. Arsion tersenyum, senyum yang tidak ia tunjukkan pada siapa pun. "I love you, Vanya," bisiknya pada gambar itu. "Tapi kamu belum tahu seberapa besar."*** Keesokan paginya, Audrey datang lebih awal. Lebih awal dari siapa
“Aaron ada di sini,” lanjut Aresh. “Setiap hari. Melihat kamu bangun, melihat kamu lelah, melihat kamu takut. Aku tidak menyangkal itu. Tapi… apakah kedekatan kalian berarti saudara lain... seperti aku ini, sudah tidak lagi dibutuhkan dengan cara yang sama?”Kata-kata itu seperti pisau halus yang
"Pergi tanpa penjelasan. Aku tak suka kamu melakukan ini." Ucapan Aaron membuat aku tersenyum sinis dan menjawab, "Bukankah hobimu melakukan ini, Kak?" Aaron terdiam sehingga aku mengangkat koper. “Aku harus berangkat.” Ia refleks meraih pergelangan tanganku dan menggeleng, “Tunggu.” Sentuhan
Ia tersenyum tipis. “Mungkin aku hanya ingin memastikan kamu tidak salah mengartikan posisimu. Di rumah itu, di hidupnya.” Kalimat itu terasa seperti garis yang ditarik jelas di tanah. Angin malam berembus lebih kencang. Permukaan kolam beriak pelan. “Aku tidak pernah bermimpi menempati tempat s
Pagi hari saat aku duduk di salah satu kursi meja makan sambil mengenakan sweater lengan panjang untuk menutupi sisa dingin yang masih tinggal di tubuhku, langkah kaki terdengar mendekat mAku tahu siapa tanpa perlu menoleh.Aaron.Ia berhenti di ambang pintu ruang makan. Aku bisa merasakan tatapan







