MasukDua hari setelah malam itu, sebuah amplop coklat dikirim ke meja Vanya tanpa nama pengirim. Di dalamnya berisi foto foto lama. Foto Arsion muda bersama seorang pria yang sangat mirip dengannya, sama sama tinggi, tapi pria itu memiliki senyum yang lebih cerah. Di belakang foto, tulisan tangan mungil: "Aaron & Sherry. Sebelum pernikahan." Vanya membalik foto satu per satu. Ada foto Aaron dan Sherry berpelukan di depan pelaminan, foto Sherry menggendong bayi laki laki dengan wajah sumringah, lalu foto yang berbeda. Foto Sherry menggendong Mia kecil di pangkuannya sambil menatap Aaron yang sedang menggendong Nathan. Aaron tersenyum pada Nathan, tapi tidak pada Mia. Bukan karena benci. Hanya karena... fokusnya terbelah. Foto terakhir membuat Vanya terhenyak. Arsion sedang menggendong Mia yang masih balita. Wajah Arsion tidak dingin seperti biasanya. Ia tersenyum. Senyum yang lelah tapi penuh kasih. Mia tertidur di pundaknya, tangan mungilnya memegang erat kerah kemeja Arsion. Di be
Vanya mengangkat wajahnya, matanya merah, lalu bertanya dengan suara gemetar."Kamu janji?" "Janji." Ia berbalik, mengambil tasnya dari meja, lalu berjalan ke pintu. Namun di ambang pintu, ia berhenti. Tanpa menoleh, ia berkata dengan suara serak. "Arsion." "Hm?" "Aku juga... merasakan sesuatu. Tapi tolong jangan membuatku menyesal," ucapnya, sebelum melangkah keluar. Langkah kakinya menggema di koridor sepi, perlahan menjauh. Arsion berdiri di ruang Vanya yang masih hangat. Di meja kerjanya, ia melihat sebuah sketsa kecil. Gambar dua orang dewasa dan satu anak kecil di depan rumah tersenyum. Sama persis dengan yang digambar Mia, tapi kali ini digambar ulang oleh tangan Vanya dengan detail lebih indah. Wanita itu menyimpan gambar Mia di mejanya. Arsion tersenyum, senyum yang tidak ia tunjukkan pada siapa pun. "I love you, Vanya," bisiknya pada gambar itu. "Tapi kamu belum tahu seberapa besar."*** Keesokan paginya, Audrey datang lebih awal. Lebih awal dari siapa
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Vanya berdiri di baliknya, sudah berganti pakaian santai: kaus putih longgar dan celana kain hitam. Rambutnya dibiarkan tergerai, sedikit kusut, wajahnya tanpa riasan. Kacamata baca masih di ujung hidung. Ada sesuatu yang berbeda dari penampilan ini, Vanya tiidak rapi seperti biasanya, juga tidak sempurna, tapi justru itu yang membuat Arsion tidak bisa mengalihkan pandangan. "Ada yang perlu dibahas, Pak?" tanyanya, suara Vanya datar. Tidak hangat, tidak dingin, tapi kosong. Arsion menyandarkan bahu ke kusen pintu, lalu menjawab sedatar mungkin."Kamu tidak pulang." "Laporan belum selesai," jawab Vanya, tanpa mau melihat ke arah Arsion. "Selesai jam delapan tadi, aku lihat," balas Arsion, sehingga Vanya terdiam. Ia tahu Arsion bisa mengakses status pekerjaan semua karyawan jika ia mau. Tidak ada alasan. "Baik. Saya tidak ingin pulang. Itu hak saya." "Vanya." Arsion menatapnya lekat, lalu bertanya dengan suara pelan, "Apa yang mem
Di ruang kerja Arsion, Audrey sudah berhasil masuk tanpa izin. Ia duduk manis di sofa, menyilangkan kaki, memperlihatkan sepatu Louboutin bersol merah. "Audrey, ini kantor. Bukan ruang pribadiku," ucap Arsion tanpa menatapnya. "Kita kan dulu dekat, Ar. Tidak ada salahnya mengobrol sebentar." "Kita tidak pernah dekat. Kamu datang ke koperasiku, duduk di sampingku, lalu bilang ke semua orang kalau kita pacaran. Aku tidak pernah setuju." "Oh, kamu setuju diam diam." "Aku diam karena tidak ingin membuatmu malu di depan umum. Tapi sekarang tidak ada alasan untuk diam." Arsion akhirnya menatap Audrey. Matanya keras. "Dengarkan baik baik, Audrey. Kamu boleh bekerja di sini. Kamu boleh menjalankan tugasmu. Tapi jangan pernah mendekatiku atau Mia di luar urusan pekerjaan. Kalau kamu coba coba, aku akan lapor ke dewan direksi. Kamu akan dipecat dalam sehari." Audrey tersenyum. Senyum yang penuh percaya diri. "Kamu bicara begitu, tapi matamu bilang lain, Ar." "Apa?" "Mata
Tapi pintu sudah tertutup. Arsion duduk kembali di kursinya, memijat pelipis. "Audrey, kita akan bekerja sama secara profesional. Lupakan masa lalu yang tidak pernah terjadi." "Kamu masih dingin kayak es, Ar. Tapi dulu kan aku bisa mencairkanmu. Sekarang pasti bisa lagi." Audrey mendekat, menaruh kedua tangannya di meja, lalu mencondongkan tubuh ke depan. Baju merahnya sedikit terbuka di bagian dada. "Apalagi sekarang kamu duda. Tidak ada halangan kan?" Arsion menatap Audrey dingin. "Ada halangan." "Apa?" "Aku." Arsion berdiri. "Aku tidak tertarik, Audrey. Dulu, sekarang, atau nanti. Sekarang, kalau tidak ada yang perlu dibahas, aku kembali ke ruang kerja." Ia meninggalkan Audrey berdiri di ruang raja dengan senyum yang perlahan memudar. Tapi Audrey bukan tipe wanita yang menyerah mudah. "Oh, Arsion," bisiknya sambil merapikan rambut. "Kamu lupa bagaimana caranya aku mendapatkan apa yang aku mau. Dulu aku bisa membuatmu duduk di sebelahku di kantin meskipun kamu be
"Tidak bisa, Mi. Rapat orang dewasa." "Tapi Tante Vanya ikut. Mia mau duduk di pangkuan Tante Vanya." Arsion menatap Vanya sekilas. Vanya hanya mengangkat bahu. Terserah Mia. "Baik, tapi diam," ucap Arsion akhirnya. --- Jam sepuluh tepat, ruang raja kembali penuh. Kali ini dengan klien dari Jepang yang ingin kerja sama ekspansi properti. Di kepala meja, Arsion duduk dengan tegas. Di samping kanannya, Vanya dengan tablet dan stylus. Di pangkuan Vanya, Mia asyik menggambar di buku kecilnya. Klien Jepang itu tersenyum melihat Mia. "Your daughter, Mr. Arsion?" Arsion terdiam sesaat. Sebelum ia menjawab, Mia lebih dulu bersuara. "Itu Om, itu Tante Vanya, Mia anaknya. Tapi Mia bukan anak kandung Om, Mia anak Mama Sherry. Tapi om sudah janji jangan bawa bawa Sherry. Jadi ya sudahlah." Seluruh ruangan membeku. Arsion menutup wajahnya dengan tangan. Vanya menunduk, berusaha keras tidak tertawa. Klien Jepang itu hanya mengangguk bingung. "Ah... sou desu ne..." Rapat be
"Sion, tolong angkat... tolong angkat.... "Setelah ditolak Claire untuk bicara dengan Aaron, aku mencoba menghubungi saudara tiriku yang lain, Arsion. Aku berulang kali menekan ikon telepon di layar ponselku, jemariku bergetar dan napasku sesak karena panik yang terus menggedor dada. "Arsion… an
“Jawab, Sion,” desak Audrey, pelan tapi tegas.Kaiser menyandarkan bahu ke loker sambil tersenyum tipis, menikmati pertunjukan.“Gimana, Arsion?” pancing Kaiser santai. “Pacarmu menunggu.”Arsion menghela napas, menggaruk rambutnya dan menjawab sambil tak mau menatap wajah Audrey. “Memangnya belum
Pagi hari aku bangun dengan semangat setelah semalam aku dan Arsion menikmati keisengan menjahili Maureen. Namun, belum sempat aku merenggangkan badan, ponselku bergetar. Nama “Mama” muncul di layar dan entah kenapa jantungku langsung mencelos. Tidak biasanya mama menelepon sepagi ini, sehingga
“Karena aku sangat takut kehilanganmu.... "Kata-kata Aaron membuat aku terkejut sampai membelalakkan mata. "A-apa yang kamu bilang, Kak?"Aku sudah mendengarnya, tapi bertanya lagi untuk membuat semuanya lebih jelas. Jantungku bertalu-talu, mendengar dari mulut Aaron bahwa dia sangat takut kehi







