Malam menyelimuti Kastil Devereux seperti biasa—dingin, tegak, dan tampak tak tersentuh oleh bisik-bisik yang beredar di luar temboknya. Batu-batu tua itu berdiri kukuh, seolah menantang dunia untuk membuktikan bahwa warisan sebesar ini bisa goyah hanya oleh kata-kata. Di ruang makan utama, cahaya lilin memantul pada perak dan kristal. Meja panjang terisi rapi. Lady Vareen duduk di kepala meja, punggungnya lurus, ekspresinya tertata. Di satu sisi, Lucianne menyantap hidangannya dengan gerakan anggun yang nyaris malas. Marcus duduk tak jauh darinya—tenang, terukur, seolah malam ini hanyalah satu dari banyak malam yang telah ia perhitungkan. Garrick dan Finn bergerak senyap, menyajikan hidangan dengan disiplin yang diwariskan turun-temurun. Namun telinga mereka tetap terbuka. “Rekan-rekanku di pertemuan sore ini,” Lady Vareen membuka suara akhirnya, nada suaranya tenang namun berat, “membicarakan anggur Devereux.” Sendok berhenti sejenak, lalu kembali bergerak. “Berita itu me
Last Updated : 2025-12-18 Read more