Halaman depan rumah Narine perlahan kembali sunyi, tapi sunyi yang terasa menekan dada. Rumput yang tadi jadi saksi perkelahian dua laki-laki itu kini hanya menyimpan jejak kaki berantakan dan noda darah tipis yang mulai mengering. Sore masih menggantung, cahaya matahari jatuh miring, tapi kehangatan itu sama sekali nggak sampai ke tubuh Narine. Dia berdiri di antara Rajan dan Arkana, napasnya pendek-pendek, kepalanya pening seperti habis diputar terlalu keras.Rajan berdiri beberapa langkah di depannya, dada naik turun, rahangnya mengeras. Di sudut bibirnya ada luka kecil, tangannya masih mengepal seolah siap memukul lagi kalau perlu. Arkana berdiri di sisi lain, bersandar sedikit ke motornya, satu tangan menekan rahang yang lebam. Darah di bibirnya bikin Narine mual bukan karena jijik, tapi karena rasa bersalah yang tiba-tiba menghantam tanpa ampun.“Nar, masuk,” kata Rajan akhirnya. Suaranya berat, masih mengandung sisa amarah. “Ini bukan urusan lo.”Kalimat itu kayak tamparan pela
Last Updated : 2025-12-28 Read more