Irene menutup pintu mobilnya dengan hentakan yang terlalu keras untuk sekadar menandai kepulangan. Suara logam beradu itu menggema sebentar di basement apartemen, lalu hilang, menyisakan dengung amarah yang masih berputar di kepalanya. Tangannya gemetar saat ia melepas kacamata hitam, napasnya pendek-pendek, dadanya terasa sesak oleh campuran malu, marah, dan rasa kalah yang belum pernah ia terima dengan lapang.Sepanjang perjalanan dari kantor tadi, wajah Arkana dan Narine terus berkelebat. Senyum tenang Narine. Tatapan Arkana yang dingin tapi tegas. Mereka berdiri berdampingan dengan cara yang begitu alami, seolah dunia memang seharusnya menempatkan mereka di sana. Irene membenci kenyataan itu. Bukan karena Arkana menolaknya ia sudah pernah ditolak sebelumnya, melainkan karena Narine ada, hidup, bernapas, dan berdiri sebagai alasan Arkana semakin mendorong nya jauh.Di apartemennya yang sunyi, Irene melempar tas ke sofa dan berjalan mondar-mandir. Ia berhenti di depan jendela, menat
Last Updated : 2026-01-04 Read more