Home / Romansa / Sentuhan Pria Dewasa / Chapter 46 Memancing Keributan

Share

Chapter 46 Memancing Keributan

Author: Polcaa
last update Last Updated: 2026-01-03 21:07:19

Pagi itu kantor masih berada di ritme yang relatif tenang ketika Irene melangkah masuk tanpa rasa ragu sedikit pun. Hak sepatunya berdenting pelan di lantai marmer, teratur, penuh percaya diri seolah tempat ini masih menyimpan ruang untuknya. Padahal tidak ada satu pun agenda yang menunggunya hari ini. Tidak ada jadwal meeting. Tidak ada kerja sama lintas divisi. Tidak ada alasan profesional yang sah. Irene datang dengan satu tujuan yang begitu jelas di kepalanya sejak bangun pagi yaitu menemui Arkana. Dan kalau bisa, mengganggu apa pun yang berhubungan dengan perempuan itu ya "Narine".

Resepsionis sempat menatapnya ragu ketika Irene menyebut nama Arkana. “Sebelumnya udah ada janji, Mbak?” tanyanya sopan. Irene tersenyum tipis, senyum yang terlatih, senyum yang biasa ia gunakan untuk menutupi niat sebenarnya. “Nggak usah. Tapi ini penting. Urusan pribadi.” Kata terakhir itu ia tekan pelan, seolah cukup untuk membuka jalan. Beberapa detik kemudian, kartu tamu sudah berada di tangannya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 71 Masih Dengan Kekalutan Rajan

    Rajan pulang ketika malam sudah terlalu larut untuk disebut hari, tapi terlalu dini untuk disebut pagi. Lampu koridor apartemen menyala dengan warna kuning pucat, memantulkan bayangan tubuhnya yang berjalan tanpa benar-benar sadar ke mana ia melangkah. Tangannya gemetar ringan ketika mencari kartu akses, kepalanya masih dipenuhi suara Irene yang terisak, terputus-putus, seperti rekaman rusak yang diputar berulang.Ia berhasil menenangkan Irene atau setidaknya, membuat tangis itu mereda menjadi kelelahan. Duduk di lantai rumah sakit, bersandar pada dinding dingin, membiarkan Irene menangis sampai tidak ada lagi tenaga tersisa untuk menolak kenyataan: adiknya, Narine, bertunangan dengan Arkana.Rajan tidak tahu bagian mana yang lebih menghantam, nama Arkana, atau fakta bahwa Irene mengetahuinya dengan cara sebrutal itu.Pintu apartemen terbuka.Lampu ruang tamu menyala terang. Terlalu terang untuk kondisi kepalanya yang masih berdenyut.“Loh. Abang darimana kok baru pulang,” suara Narin

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 70 Sisi terpuruk Irene

    Dalam kebahagiaan Arkana dan Narine untuk melangsungkan hubungan nya ke jenjang yang lebih serius, terdapat Irene yang awalnya mengira ia hanya salah dengar.Nama Arkana dan Narine terdengar terlalu asing bila disandingkan dengan kata 'pertunangan'. Kata itu melayang di udara ringan, santai, seolah tidak membawa beban apa pun. Padahal, bagi Irene, kata itu jatuh seperti palu godam, menghantam tepat di tengah dadanya.“Bulan depan mereka resmi bertunangan, ya?”“Katanya keluarga besar sudah sepakat.”Suara-suara itu datang dari balik pintu, dari percakapan yang bukan ditujukan untuknya. Irene berdiri kaku, jemarinya menggenggam benda di tangannya terlalu kuat sampai nyeri. Ia tidak masuk. Tidak juga pergi. Ia hanya berdiri di sana, mencoba mencerna kalimat yang rasanya tidak masuk akal.Arkana. Bertunangan. Dengan Narine.Tidak mungkin. Arkana adalah miliknya bagaimana bisa laki laki itu menjadi milik orang lain.Otaknya menolak menyusun kata-kata itu menjadi satu makna utuh. Arkana ya

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 69 Saling Menguatkan

    Langit itu merambat turun perlahan, meninggalkan semburat jingga yang menggantung di balik jendela-jendela tinggi rumah sakit. Cahaya matahari menembus kaca dan jatuh memanjang di lantai koridor, menciptakan bayangan yang sunyi dan terasa dingin. Narine berdiri beberapa langkah dari bangku panjang di dekat teras terbuka, menatap sosok kakaknya yang duduk sendiri, punggungnya sedikit membungkuk, bahunya seolah memikul beban yang tak kasatmata.Sejak pagi, Narine bisa merasakan perubahan itu. Rajan lebih banyak diam. Senyumnya hadir, tapi kosong. Tawa kecilnya muncul, namun tidak pernah sampai ke matanya. Narine mengenal ekspresi itu dengan terlalu baik ekspresi seseorang yang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, terjebak dalam kenangan yang tak pernah benar-benar sembuh.Ia menarik napas dalam sebelum melangkah mendekat.“Bang…” panggil Narine lembut.Rajan menoleh. Wajahnya tampak sedikit terkejut, lalu mengendur menjadi senyum tipis. “Hm?”“Aku boleh ngajak kakak keluar sebenta

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 68 Tangis Bahagia Rajan

    POV RAJANRajan berdiri sedikit menyamping di dekat pintu ruang rawat itu, tubuhnya bersandar pada dinding dingin rumah sakit, tangan terlipat di dada. Dari posisinya, ia bisa melihat semuanya dengan jelas ialah Narine yang setengah bersandar di ranjang, wajahnya pucat namun matanya berbinar Arkana yang berdiri di sisi ranjang dengan ekspresi gugup yang hampir tidak pernah Rajan lihat sebelumnya, juga Maya yang berdiri di sudut ruangan, menutup mulut menahan senyum dan air mata sekaligus.Bau antiseptik menusuk hidung, lampu putih rumah sakit membuat suasana terasa steril dan kaku. Tapi di tengah segala kekakuan itu, ada sesuatu yang hangat mengalir pelan sesuatu yang membuat dada Rajan mengencang tanpa ia sadari.Ia menatap Arkana yang kini berlutut perlahan di samping ranjang Narine.Detik itu juga, Rajan menarik napas lebih dalam.Jadi ini momennya.Ia sempat mendengar rencana Arkana sedikit, setengah bocor, lewat obrolan Maya dan bisikan tim yang sok rahasia. Tapi melihatnya secar

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 67 Keriweuhan Mamah

    Arkana baru saja kembali ke kamar rawat setelah sempat keluar sebentar menemui dokter ketika pintu terbuka pelan. Suara langkah tergesa langsung memenuhi ruangan.“Arkana! Arkana!”Arkana refleks bangkit setengah duduk di ranjang, wajahnya langsung berubah kaget sekaligus lega. Dua sosok yang sangat ia kenal berdiri di ambang pintu mamahnya dengan tas besar di pundak, papahnya membawa kantong buah dan bunga kecil meskipun dengan kondisi yang agak acak-acakan.Narine yang duduk di kursi dekat ranjang spontan ikut berdiri.“Selamat malam Mah, Pah…” sapa Narine gugup.Mamah Arkana menoleh sekilas ke Narine, senyum tipis muncul, tapi fokusnya langsung kembali ke Arkana. Ia melangkah cepat mendekat, menaruh tas sembarangan di kursi, lalu mengamati putranya dari ujung kepala sampai kaki.“Ya Allah, kamu ini gimana sih, Arkana?!” suara mamahnya langsung meninggi, campur aduk antara panik dan kesal. “Ko bisa kecelakaan gini, katanya masuk rumah sakit! Mamah sampai hampir pingsan di rumah!”Pa

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 66 Tidak Ada Dalam Rencana

    Ponsel Maya bergetar di atas meja. Getaran itu kecil, nyaris tak terdengar di antara suara AC kantor dan sisa isak Narine yang belum juga berhenti sejak tadi.Maya melirik layar. Nama Thomas muncul.Entah kenapa, jantung Maya langsung berdegup lebih cepat.“Angkat dong tuh si Thomas telfon,” ujar Narine pelan, suaranya serak setelah terlalu banyak menangis.Maya mengangguk dan menekan tombol jawab. Baru setengah detik, wajahnya berubah.“Apa?” Maya spontan berdiri. “Di mana sekarang?”Narine menatap Maya dengan dahi berkerut. Ada firasat aneh yang tiba-tiba menyusup ke dadanya.Maya memalingkan tubuh sedikit, tapi suara Thomas tetap terdengar samar dari speaker. Suara panik, terputus-putus, terburu-buru.“Udah di IGD RS Brawijaya ini dia kecelakaan di flyover karena mobilnya ditabrak dari belakang sama pengendara lain, lu kesini deh kasih tau Narine kata gue.”Narine membeku.“Arkana?” bibirnya bergetar saat menyebut nama itu.Maya menutup telepon dengan tangan gemetar. Wajahnya pucat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status