Tahun berganti tahun, Shaynala dan William kini sudah menginjak usia sekolah menengah pertama. Keduanya tetap bersama-sama. Bermain bersama, sekolah bersama, les bersama, meskipun keduanya tumbuh menjadi pribadi yang benar-benar bertolak belakang.William menjadi seorang yang kutu buku. Kacamata sudah bertengger di matanya. Persis sekali dengan ayahnya, Stephen. Dan di usia yang baru menginjak tiga belas, ia sudah memenangkan beberapa kejuaraan SAINS tingkat sekolah dasar.Berbeda dengan Shaynala. Anak itu lebih terlihat di bidang seni dan olahraga. Darah seni mengalir lebih banyak, turun dari sang ibu.Ia tak begitu suka belajar. Akademiknya biasa saja, tetapi sudah berkali-kali mewakili sekolah di kejuaraan tinju dan lomba seni rupa.Shaynala jadi murid yang disegani. Sikap galaknya membuat seisi sekolah tak berani macam-macam padanya. Satu-satunya yang berani macam-macam ya hanya William seorang.“Nala!” William mendekat ke ring tinju tempat Shaynala biasa berlatih. Ia selalu setia
Read more