“Nat, ayo kemas baju-bajumu,” bisik Arsen pada Nathan, adik lelakinya.“Kita mau kemana, Bang?”“Kita pergi ke rumah teman abang. Ayo!”Setelah menelepon Wiliiam, Arsen bergegas memasukkan beberapa barang dan buku-buku ke dalam ransel besar. Dan kini, ia membantu sang adik untuk turut bersiap-siap.“Apa Papa nanti tak akan marah kita pergi, Bang?”“Persetan dengan dia! Kita tersiksa kita mati pun dia tak akan peduli! Yang dipedulikannya hanya karier dia saja. Kalau dia peduli, aku baru pulang dari rumah sakit pun tak akan ditelantarkan. Dia juga tak akan memecat semua ART di rumah. Kita dipaksa hidup sendiri. Dasar brengsek!” Arsen terengah-engah saat mengeluarkan semua unek-unek tentang ayahnya.“Tak perlu bawa banyak-banyak. Yang penting malam ini kita pergi dari sini dulu!” Arsen segera menyuruh adiknya memakai ransel sendiri. Kemudian, ia membawa adiknya keluar dari kamar.Keduanya berjalan cepat, mengendap-endap. Menuruni tangga menuju lantai satu rumah dengan setengah berlari, t
Ler mais