Hujan turun sejak sore, membuat kota terasa lebih sempit dari biasanya. Seeyana menatap jendela apartemen, menyeka embun dengan punggung tangan. Hari itu melelahkan bukan karena pekerjaan, melainkan karena pikiran yang tak berhenti bergerak.Ponselnya bergetar.Ravent:Aku di bawah. Aku cuma mau ngobrol.Seeyana memejamkan mata. Ia tahu, setiap pertemuan kini berada di ambang—sedikit terlalu dekat, sedikit terlalu rawan. Tapi ia juga tahu, menghindar terus-menerus hanya akan menunda sesuatu yang tak terelakkan.Aku turun, balasnya.Di lobi, Ravent berdiri dengan jaket gelap dan rambut sedikit basah. Wajahnya tegang, tapi matanya mencari-cari. Saat melihat Seeyana, bahunya turun sejenak seolah baru ingat cara bernapas.“Makasih,” katanya pelan.Mereka keluar bersama. Hujan memaksa langkah mereka mendekat, berlindung di bawah kanopi. Tidak ada tujuan jelas; hanya berjalan, menyusuri trotoar yang berkilau oleh lampu jal
Last Updated : 2025-12-25 Read more