Shen Liu Zi menoleh. Dalam satu tarikan napas, tubuhnya sudah setengah miring, keseimbangannya berpindah tanpa ragu. Tangannya terangkat, jari-jarinya menutup tepat di batang anak panah yang masih bergetar, hanya sejengkal dari punggungnya. Hening. Ujung panah itu masih bergetar halus di genggamannya. Tatapannya jatuh ke benda itu—dingin, tajam, membawa sisa niat membunuh yang belum sepenuhnya lenyap. Lalu perlahan, matanya terangkat ke depan. Kosong. Tidak ada siapa pun, tapi di antara sunyi yang menyelimuti kediaman, sayup-sayup terdengar bunyi logam yang beradu, singkat, teredam, seperti terjadi di balik lapisan bayangan. Tubuh Shen Liu Zi menegang tipis. Lalu, tanpa ragu, langkahnya berbalik arah. Kakinya bergerak cepat, dari langkah panjang menjadi setengah berlari. Ujung bajunya berayun mengikuti ritme napasnya yang tetap teratur. Setiap pijakan ringan tapi pasti, memotong sunyi halaman dalam yang seolah tidak menyadari bahaya yang baru saja melintas. Di depan, g
اقرأ المزيد