Cyah!Suara cambuk memecah dingin dini hari yang masih menggantung di antara kabut tipis.Kuda-kuda kereta langsung melesat, napas mereka berat tapi stabil, uap putih keluar dari lubang hidung, menyatu dengan udara dingin yang menggigit.Roda kereta berputar cepat, memotong jalan yang membeku—anehnya tetap mulus, seolah jalur ini jarang dilalui. Di kursi kusir, Chu Qiao duduk tegap. Tangannya mantap menggenggam kendali. Tatapannya lurus ke depan, tajam, seperti elang yang membidik mangsa.Angin dingin sesekali menerpa wajahnya, mengibaskan helaian rambutnya yang terikat longgar, membuatnya tetap terjaga meski mulutnya beberapa kali menguap. Di dalam kereta.Yu Li masih memeluk pedang pendek itu erat-erat. Jemarinya yang semula gemetar kini perlahan mengeras, menggenggam lebih pasti.Di hadapannya, Shen Liu Zi bersandar tenang, matanya terpejam, tapi bukan tertidur. Waktu bergulir.Langit perlahan berubah warna—dari kelam menjadi abu-abu, lalu perlahan disapu cahaya keemasan.Saat m
اقرأ المزيد