“Ada apa, Mas?” Aura menatap Pras dengan tatapan menuntut penjelasan. Jantungnya masih berdegup kencang, membayangkan hal terburuk terjadi pada Mikayla.Bukannya menjawab, Pras justru melangkah lebar menuju balkon, membelakangi Aura. Sikap diam itu membuat rasa penasaran Aura berubah menjadi kecemasan yang menyesakkan. Namun, saat ia membuntuti Pras ke balkon dan mencuri dengar percakapannya di telepon, ternyata dugaannya meleset.“Bodoh dia. Bisa-bisanya dikadalin sama kekasihnya sendiri,” desis Pras dingin ke arah ponselnya.Aura menghela napas panjang, bahunya merosot lega. Setidaknya, itu bukan tentang Mikayla. Jika terjadi sesuatu yang fatal pada gadis itu karena ulahnya tadi, Aura pasti akan dihantui rasa bersalah seumur hidup.“Aku juga sih... sok-sokan mau melawan dengan bersikap kejam. Padahal rasa bersalahnya minta ampun,” gumam Aura dalam hati.Ia menyadari bahwa menjadi sosok yang tegas butuh latihan mental yang kuat. Ia teringat masa lalunya, saat ia pertama kali terjebak
Last Updated : 2026-01-10 Read more