LOGINSelamat membaca... 💖💖💖
Aura berdiri mematung di balik dinding, mengatur napasnya yang sempat memburu. Ia membiarkan ibu dan anak itu lewat dengan gerutuan kesal yang masih terdengar jelas. Begitu langkah kaki Veny dan Mikayla menjauh, Aura menghela napas panjang—sebuah embusan napas yang sarat akan kelelahan.Rasanya sangat melelahkan jika harus terus bersikap tajam dan penuh konfrontasi seperti tadi. Ini benar-benar bukan jati dirinya yang asli. Namun, Aura sadar, di rumah yang penuh duri ini, kelembutan hanya akan membuatnya terinjak.Setidaknya, satu langkah kecilnya berhasil. Ia telah menanamkan peringatan di benak Veny dan Mika bahwa Aura yang sekarang tidak akan tinggal diam. Ia ingin mereka tahu bahwa kehadiran mereka di rumah ini tidak akan pernah terasa nyaman selama mereka masih menyimpan niat jahat.“Bu, ada panggilan dari Pak Pras.”Suara Tata yang tiba-tiba muncul di sampingnya membuat Aura tersentak. “Astaga, Tata! Kau mengagetkanku saja,” seru Aura sembari mengelus dadanya, mencoba menenangka
Sambil menggendong Axel, Aura mengantar sang suami yang hendak berangkat ke kantor. Udara pagi masih terasa sejuk, tapi dadanya entah kenapa sedikit sesak—sebuah firasat yang tak sempat ia pahami.“Daaah, Papa…” Aura menuntun tangan mungil Axel untuk melambai ke arah mobil Pras yang perlahan keluar dari halaman.Axel melonjak-lonjak dalam gendongannya, kakinya menendang udara seolah menolak perpisahan singkat itu. Jika bahasanya bisa diterjemahkan, bayi tujuh bulan itu pasti ingin ikut sang papa.“Axel mau ikut Papa?” Aura tersenyum kecil sambil melangkah masuk. “Sabar ya. Besok kalau udah besar sedikit, Axel pasti diajak Papa, kok. Sekarang Axel mamam dulu biar cepat besar.”Belum sempat Aura melangkah jauh, sebuah suara dingin menyambar dari arah ruang tengah.“Cepat besar… biar aku bisa kasih tahu kalau kamu ada karena mamamu merebut papaku!”Aura terhenti. Perlahan ia menoleh.Mikayla berdiri di sana dengan kedua tangan terlipat di depan dada, wajahnya datar namun matanya menyimpa
Lepas dari ketegangan itu, Pras kembali melanjutkan jeda yang berkali-kali semakin meningkatkan adrenalinnya itu.Kali ini tidak ada lagi kelembutan. Ia menghentak dengan tempo yang lebih cepat dan kuat, seolah ingin melampiaskan ketegangan yang tadi sempat tertahan.“Akhhh…” Pekik Aura setiap kali hentakan itu menghunusnya dengan dalam.Meja marmer itu bergetar pelan mengikuti irama penyatuan mereka. Aura tak lagi bisa menahan suaranya. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Pras, menggigit bahu suaminya itu untuk meredam desahan-desahan nikmat yang kian nyaring.“Mas... pelan-pelan... ahhh!” Aura meracau, tubuhnya gemetar hebat saat merasakan gelombang puncak mulai mendekat.“Tidak ada pelan-pelan, Aura... kau yang memulainya, jadi kau harus menyelesaikannya sampai habis,” geram Pras. Pria itu semakin menggila, memberikan dorongan-dorongan dalam yang membuat Aura merasa dunianya seakan berputar.Sentuhan kulit yang basah oleh keringat, aroma tubuh yang memabukkan, dan sensasi "te
Pras tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan seringai nakal yang membuat Aura merinding sekaligus bergairah. Ia langsung menyambar jemari Aura, menuntunnya keluar dari ruang kerja dengan langkah sepelan mungkin.Suasana rumah sudah sangat sunyi. Lampu-lampu utama telah dipadamkan, menyisakan lampu temaram di sudut-sudut lorong. Aura mengikuti dari belakang, memandangi punggung tegap suaminya sambil sesekali menahan tawa saat lantai kayu yang mereka injak mengeluarkan bunyi derit kecil.Begitu sampai di dapur, Pras segera menutup pintu kayu itu dan memutar kunci. Klik. Bunyi kecil itu terasa begitu keras di telinga mereka dalam keheningan malam.“Sudah aman, Tuan Putri,” bisik Pras, suaranya berat dan serak.Dapur itu terasa dingin dengan permukaan marmer dan peralatan stainless steel, namun suhu tubuh mereka justru berbanding terbalik.Aura langsung melompat duduk di atas island kitchen yang tinggi, membiarkan gaun satinnya tersingkap hingga ke pangkal paha.“Dingin ya, Mas
“Nakal kamu!” Pras bergumam gemas. Ia menatap wanita di depannya yang tak pernah berhenti membuatnya merasa seperti pemuda yang baru puber—penuh gairah dan rasa ingin memiliki.Pras masih tampak sedikit salah tingkah saat Aura kembali memujinya dengan terang-terangan. “Mas Pras itu tampan, tubuhnya masih terjaga, dan... perkasa. Aku heran saja, apa yang dicari Veny saat dia memilih berselingkuh dulu?” Aura mencandainya dengan nada sensual yang menggoda.Pras menaikkan sebelah alisnya. “Lalu kau sendiri bagaimana? Apa yang kau cari saat memutuskan 'berselingkuh' denganku dulu?”Aura tertawa manja sembari bergelanyut di lengan kekar Pras. “Ya mau bagaimana lagi? Ada pria yang selalu sukses membuatku menjerit-jerit keenakan. Mana mungkin aku menolak?”Keduanya tertawa bersama, namun perlahan tawa itu surut saat Pras menatap Aura dengan tatapan lekat dan serius.“Sayang, tolong jangan bahas masa lalu lagi, ya,” pinta Pras dengan nada penuh pertimbangan. Ia tidak ingin memori tentang manta
Aura tidak lagi peduli pada harga diri yang tadi sempat terluka. Seperti remaja yang sedang dimabuk asmara dan ingin menggoda pujaan hatinya, ia mulai melancarkan aksi.Baju tidur satin tipis yang membalut tubuhnya terasa dingin di kulit, namun gairah di dalam dadanya justru membara. Sengaja ia melorotkan satu sisi bahunya, membiarkan kain licin itu jatuh hingga memamerkan pundak mulus dan lengkungan belahan dadanya yang menggoda. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai acak-acakan, memberikan kesan liar namun alami—sebuah undangan yang sulit ditolak pria mana pun.Pras melangkah masuk ke rumah dengan gurat kelelahan yang nyata. Wajahnya kaku, matanya terfokus pada ponsel yang masih menempel di telinga. Ia langsung melangkah menuju ruang kerja tanpa menyadari ada "predator" cantik yang tengah membuntutinya dalam diam, mengawasi setiap gerak-geriknya dengan tatapan lapar.Begitu Pras menutup telepon dan menghela napas berat, sebuah suara lembut yang mendayu menyapa dari ambang pintu.“Say







