"Bukan, bukan pacar! Ini... emm... dari ayahku," ucap Alya cepat, berusaha untuk terlihat meyakinkan.Dina tertawa kecil, sambil menyikut lengan Alya pelan. "oh, aku kira kamu punya gebetan rahasia!"Alya hanya bisa menyunggingkan senyum yang terasa kaku di bibirnya. Ia berusaha mengendalikan kegugupannya, lalu kembali berkata dengan suara yang dibuat setenang mungkin, "hmm, Din, kayaknya aku harus cepat pulang, deh. Ayahku bilang aku harus cepat sampai di rumah.""Yah, kenapa buru-buru? Padahal lagi seru-serunya," ucap Dina lirih, raut sedih di wajahnya terlihat jelas."Maaf ya, besok kita lanjut lagi, deh," ucap Alya penuh rasa bersalah, meski dalam hati ia lebih khawatir jika rahasianya besarnya terbongkar.Dina menghela napas panjang, lalu mengangguk pasrah. "Ya sudah deh. Kamu pulang naik apa? Aku pesankan taksi online, ya?" tawar Dina pada sahabatnya itu.Tawaran itu membuat mata Alya terbelalak karena panik. Ia buru-buru menggeleng kuat. "Nggak usah, Din!" ucapannya terdengar s
Terakhir Diperbarui : 2025-11-23 Baca selengkapnya