Dina curiga wanita itu adalah kekasih gelap dosen mereka tersebut. Namun, dengan cepat Alya menahan lengan Dina, mencengkeramnya kuat. "Jangan, Din." bisik Alya lirih, nyaris tak terdengar. "Jangan buat keributan di sini. Aku nggak mau jadi bahan tontonan..." "Tapi Al, dia keterlaluan! Semalam dia sama kamu, sekarang dia sama siapa lagi?" Dina masih meradang. Alya menggeleng lemah, mencoba tersenyum meski matanya berkaca-kaca. "Sudahlah, Din. Mungkin itu urusan pekerjaan. Ayo, kita duduk di bagian luar saja." Saat mereka berjalan menuju area luar, mereka terpaksa harus melewati meja Reihan. Alya berusaha menegakkan kepalanya, meskipun hatinya terasa remuk. Saat jarak mereka hanya terpaut beberapa langkah, Reihan mendongak. Mata mereka bertemu sejenak. Alya berharap ada kilatan rasa bersalah atau keterkejutan di sana. Namun, Reihan hanya meliriknya sekilas, tanpa ekspresi, seolah Alya hanyalah orang asing yang kebetulan lewat. Ia kemudian kembali fokus pada wanita di depannya. Al
Read more