Reihan melangkah menjauh, suara sepatunya yang beradu dengan lantai marmer terdengar tegas, seolah sedang menegaskan dominasinya yang baru saja ia tancapkan di hati Alya. Ia memasuki ruang kerjanya, membanting pintu, dan melemparkan tubuhnya ke kursi kebesaran.Di sana, Reihan menyandarkan kepala sambil memijat pelipisnya. Amarahnya perlahan surut, menyisakan rasa lelah yang luar biasa.Reihan menatap langit-langit ruang kerjanya yang tinggi, membiarkan keheningan menyerap sisa-sisa emosinya. Kata cerai yang diucapkan Alya tadi masih terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti duri yang menusuk harga dirinya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada rasa nyeri yang berbeda, rasa takut yang enggan ia akui.Sementara itu, di dalam kamar yang luas, tangis Alya sudah mereda, hanya menyisakan isak yang sesekali terdengar. Ia meringkuk di atas ranjang, merasa begitu kecil dan tak berdaya melawan kekuatan suaminya.Hingga tiba-tiba, ia merasa ada sesuatu yang tidak nyaman di perutnya. Otot-otot
Last Updated : 2026-03-01 Read more