Kami menghabiskan empat hari terisolasi total di desa yang kini hanya berupa kubangan lumpur. Empat hari tanpa sinyal, tanpa bantuan, dan nyaris tanpa makanan.Ellys, anakku yang biasanya riang, kini menjadi bayangan dirinya. Ia tidak lagi tertawa. Wajah kecilnya pucat dan tegang. Setiap kali mendengar suara angin yang mendesis, dia langsung memeluk kakiku erat-erat, tubuhnya gemetar. Dia trauma berat.“Mommy, gombeng… gombeng…” bisiknya lirih, merujuk pada gemuruh banjir bandang yang ia takuti.“Tidak, Sayang. Hanya angin. Sudah pergi,” aku memeluknya, menciumi puncak kepalanya yang beraroma debu. Bagaimana mungkin aku menjelaskan pada anak dua tahun bahwa ‘gombeng’ itu telah menghancurkan satu-satunya sumber penghidupan kami?Nenek, meski sudah tua, menjadi tiang kekuatan kami. Dengan tangannya yang keriput, dialah yang memimpin kami membersihkan puing-puing, menggali sepotong ubi kayu yang mungkin masih bisa dimakan, dan merebus air seadanya.Setelah hari kelima, barulah bantu
最終更新日 : 2025-12-06 続きを読む