Setelah mendapat tatapan tajam, Gisela justru berbalik dan hendak keluar kamar tanpa rasa berdosa. Tidak peduli meski Danuarta dan Cindy akan bertengkar. Ia yakin bahwa suaranya tadi, bisa didengar oleh Cindy.“Tunggu!” Suara bariton Danuarta menggema di kamar. Menghentikan langkah Gisela yang sudah satu langkah keluar dari pintu. Ia berbalik, menatap majikannya penuh tanya. Langkah tegas Danuarta terdengar mendekat. “Lain kali, kalau aku sedang telepon. Jangan pernah berbicara,” kata Danuarta tanpa ekspresi. “Iya, Tuan. Maaf.” Gisela setengah membungkuk. “Ya.” Danuarta melangkah melewati Gisela. Setelah sang majikan mulai menuruni tangga, ia segera menutup pintu kamar dan menyusul turun ke bawah. Dengan telaten, Gisela mengambilkan sarapan untuk majikannya. Di saat sedang menikmati sarapan, Feri masuk rumah itu dan berdiri di samping Gisela. Tidak ada sapaan, apalagi sekedar senyuman manis. “Anda mau sarapan?” tanya Gisela ramah. “Tidak perlu.” Justru mendapat jawaban ketus d
Terakhir Diperbarui : 2026-01-04 Baca selengkapnya