MasukGisela sudah kembali ke kamar. Ia merebahkan diri di kasur karena merasa sangat lelah. Bekas tamparan Cindy masih terasa sedikit nyeri dan sakit. Namun, ia bisa menahannya. Ada hal yang lebih ia pikirkan. Bagaimana caranya ia bisa menguping pembicaraan Danuarta dan Cindy di kamar. Ia merasa yakin kalau kedua majikannya tersebut pasti sedang bertengkar di kamar. Akan tetapi, jika dirinya mendekat dan kepergok, pasti masalahnya semakin runyam. Untuk mengusir rasa jenuh karena hanya sendirian di kamar, Gisela mengambil ponselnya dan membuka applikasi pesan. Ia menghubungi Ayunda. Membahas beberapa hal dengan serius. Saking seriusnya ia sampai tidak sadar kalau Mbok Minah sudah berjalan masuk dan sekarang berdiri di samping kasur. "Gisela." Mendengar namanya dipanggil, Gisela tersentak. Ponselnya hampir saja jatuh dari genggaman tangan. Beruntung tangannya sangat sigap hingga bisa tetap menahan ponsel itu di genggaman. "Mbok," panggil Gisela gugup. Apalagi saat menyadari tatapan Mbok
Cindy terlihat menatap tidak percaya ke arah suaminya saat mendengar Danuarta tidak membelanya. Wanita itu bahkan sudah bersedekap erat. Sementara Danuarta terlihat tenang. Beberapa kali ia tampak melirik Gisela yang masih berdiri di tempat. "Mas, saat aku masuk kamar tadi, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau dia memakai kalungku!" ujar Cindy dengan nada cukup tinggi. penuh dengan kekesalan. "Tuan, percayalah. Saya hanya meminjam kalung itu. Tidak ada niatan untuk mencuri. Tadi, saat saya hendak melepas kalung itu, Nyonya masuk kamar. Dan beliau salah paham," kata Gisela membela dirinya menyela ucapan Cindy. Nyalinya tidak gentar meski Cindy sudah menoleh padanya dan melayangkan tatapan maut. Sorot mata itu, terlihat jelas penuh kebencian. Namun, Gisela justru tetap tenang. "Lalu sekarang di mana kalung itu?" tanya Danuarta menatap Gisela dan Cindy secara bergantian. "Sudah ada di tempat Nyonya Cindy," sahut Gisela. Sambil menunjuk Cindy. "Kamu yakin tidak ada niatan
Jantung Gisela berdegup kencang tidak terkendali saat melihat Cindy melangkah semakin dekat. Ia berbalik dan langsung bertatapan wajah Cindy yang tampak sengit. Gisela melangkah mundur hingga tubuhnya menempel rapat pada meja rias itu. "Nyo-Nyonya. Anda sudah pulang?" Sorot mata wanita itu, penuh dengan kilatan amarah. Seperti hendak membakar Gisela hidup-hidup. Aliran darah di tubuh Gisela mengalir semakin deras. Seiring dengan degupan jantungnya yang kian tak terkendali. Gisela berdiri was-was. Sadar bahwa dirinya berada di ujung tanduk."Kurang ajar!" Tamparan keras menggema di kamar tersebut. Gisela sampai memejamkan mata merasakan perih dan panasnya tangan Cindy. Bahkan, tamparan itu mengejutkan pelayan yang harus masuk membawa koper Cindy. "Aku hanya pergi sebentar tapi kamu sudah sekurang ajar ini?! Kamu mencuri, 'kan!" gertak Cindy. Suaranya begitu melengking memenuhi kamar. Gisela menggeleng sambil melepas kalung tersebut dan menggenggamnya erat. Tubuhnya sedikit bergeta
"Tuan," panggil Gisela. Mengejutkan Feri yang saat itu masih melakukan panggilan telepon. Pria itu berbalik dan menyimpan ponselnya ke dalam saku. Kedua matanya terlihat tajam seperti elang yang menemui mangsa. Nyali Gisela tidak menciut hanya karena itu. "Sejak kapan kamu ada di sini?" Nada bicara Feri terdengar ketus dan penuh penekanan. Gisela mengulas senyum sembari melangkah mendekat. "Sejak Anda menelpon Nyonya Cindy." "Kamu menguping? Oh, shit!" umpatnya kesal. Dengusan Feri terdengar. Nampak semakin jelas kekesalan itu terlihat. hal tersebut justru membuat Gisela terkekeh. "Awalnya saya tidak menguping. Hanya saja, obrolan Anda sangat menarik. Jadi, saya menyimaknya." "Cih!" "Tuan Feri, Anda tenang saja. Saya tidak akan pernah merebut Tuan Danu dari Nyonya Cindy. Saya tidak ada niatan apa pun. Jadi, Anda tidak perlu khawatir atau mencemaskan hal yang tidak perlu Anda cemaskan," kata Gisela tegas. Ia melangkah maju. Mendekati Feri. Mengikis jarak di antara keduanya. Se
Setelah mendapat pemeriksaan dari dokter dan meminum obat, tanpa sadar Gisela akhirnya tertidur lelap. Hampir satu jam lamanya. Perlahan Gisela membuka kelopak mata. Sudah tidak berputar parah seperti tadi, tapi menyisakan rasa pusing yang cukup membuatnya merasa sedikit mual. Saat kedua matanya sudah benar-benar terbuka, Gisela memindai ruangan. Keningnya mengerut dalam. Merasa heran karena Danuarta ada di dalam sana. Di kamarnya. Pria itu tampak tertidur lelap di kursi yang entah sejak kapan berada di sana. Padahal tadi pagi di kamarnya tidak ada kursi sama sekali. “Kamu sudah bangun?” Suara Mbok Minah dari ambang pintu yang tiba-tiba mengejutkan Gisela, juga Danuarta yang langsung terbangun dari tidurnya. "Maaf, Tuan. Saya mengganggu Anda?" "Tidak apa, Mbok. Aku ketiduran." Pria itu bangkit dan menatap arloji di tangan. "Aku harus pergi sekarang karena ada urusan." Gisela menatap tanpa lepas Danuarta yang sedang melangkah mendekatinya. Dirinya mendadak gugup saat Danuarta sudah
Genggaman itu masih saja erat hingga cukup lama. Danuarta terlihat hendak melepaskannya, tetapi Gisela justru tetap menahan. Menggenggamnya erat seolah tidak ingin melepaskan. Saat Danuarta berbalik, Gisela segera menatap pria itu dengan memelas. Menunjukkan wajah kasihan dan menghilangkan senyum dari bibir manisnya. Merubahnya menjadi wajah yang sendu dan penuh kasihan. "Tuan, saya minta tolong. Jangan pernah bilang sama Nyonya Cindy kalau saya memakai kalungnya. Saya takut Nyonya Cindy akan memukul saya atau bahkan mengusir saya dari sini," ujar Gisela lirih. Tubuhnya sedikit gemetar membayangkan amukan Cindy jika tahu apa yang ia lakukan. Tatapan mata yang sendu itu, berhasil menarik simpati Danuarta. Tampak pria tersebut menghela napas panjang beberapa kali. Tidak ada kemarahan terlihat dari sorot matanya. "Aku tidak akan mengatakan kepada Cindy, tapi lepaskan ini." Danuarta mengangkat genggaman tangan mereka. Menunjukkan genggaman tangan yang masih erat itu. Danuarta sama seka







