"Panggil namaku. Arka," ucapnya tegas, namun ada nada lembut yang sangat posesif di sana. "Aku ingin mendengar suaramu menyebut namaku tanpa jarak. Aku ingin namaku menjadi kata terakhir yang kau sebut sebelum kau tidur, dan kata pertama yang kau ucapkan saat kau bangun. Tanpa embel-embel, tanpa protokol."Lia ragu sejenak. Menyebut nama pria paling ditakuti di Jakarta itu tanpa gelar terasa seperti melompat ke dalam jurang tanpa pengaman. Namun, di bawah tekanan tatapan Arka, ia tidak punya pilihan. "Arka ...," bisiknya pelan.Nama itu meluncur dari bibir Lia seperti sebuah pengakuan dosa yang manis, dan Arka tampak sangat menikmati setiap getaran suku katanyaSenyum tipis, hampir tak terlihat namun mematikan, muncul di sudut bibir Arka. "Sekali lagi, Lia. Biarkan aku mendengarnya lebih jelas.""Arka," ulang Lia, kali ini sedikit lebih mantap, meskipun jantungnya berpacu liar."Bagus," Arka melepaskan dagu Lia dan beralih meraih sebuah kotak beludru hitam berukuran besar yang te
Last Updated : 2026-02-13 Read more