Bita tertunduk, seluruh tubuhnya menegang di hadapan pertanyaan paling mendasar yang dilemparkan oleh Hermanto. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh dan mencari kekuatan untuk berbohong, menepis kebenaran yang terasa begitu panas di dadanya.“Aku tidak mencintai Mas Gelar, Ayah,” Bita menggeleng, menyangkal perasaannya sendiri. Ia berusaha meyakinkan Pak Herman, dan lebih penting lagi, meyakinkan dirinya sendiri.Pak Herman melirik putrinya sekilas, tatapannya penuh pengertian. Ia tersenyum singkat, senyum yang menunjukkan kebijaksanaan seorang pria yang telah melihat banyak kepalsuan dan kebenaran dalam hidup.“Ayah sudah tua, Nak. Sudah kenyang makan asam garam kehidupan,” ujarnya dengan suara tenang. “Mulutmu bisa berbohong, Nak, itu mudah sekali. Tapi mata dan gerak tubuhmu tidak bisa menipu Ayah. Saat kau bercerita tentang penderitaan Mas Gelar, matamu berkaca-kaca. Saat kau menghindarinya, ada penyesalan yang sangat besar di langkah kakimu. Itu bukan reaksi da
Last Updated : 2025-12-17 Read more