แชร์

Bab 76 — Permintaan

ผู้เขียน: Onigiri
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-28 22:46:18

“Tuan Evan.”

Panggilan itu sontak membuat Evan yang asyik berbincang langsung mematikan panggilan di ponselnya. Dengan gerakan refleks, dia menoleh ke sumber suara. Jantung berdebar kencang.

Dan ternyata, itu hanyalah Bi Tuti, pelayan setia di rumah ini. Wanita paruh baya itu kebetulan lewat saat kembali dari lantai dua setelah menjemur pakaian.

“Ada apa, Bi?” tanya Evan, berusaha menenangkan suaranya yang terdengar panik, sambil menyelipkan ponsel ke saku celana.

“Saya udah masak kalau Tuan mau sarapan,” jawab Bi Tuti memberitahu.

Evan memutar bola matanya. Lalu mengibaskan tangannya seolah mengusir sesuatu yang mengganggu. “Iya, iya. Sana lanjut kerja aja.”

Bi Tuti mengangguk patuh dan melangkah pergi menuju dapur.

Diam-diam, Evan menghela napas lega. Hampir saja ketahuan. Dia takut percakapan tadi terdengar olehnya. Namun ternyata tidak.

Akhirnya, setelah menenangkan diri, Evan berdiri tegak. Kemudian melangkah menuju kamar tidurnya yang masih tertutup rapat.

Evan hanya bisa berdir
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 101 — Bujukan

    "Kok ikut? Nanti ketahuan Meyra gimana?" tanya Evan keheranan.Bibir Erina langsung cemberut, matanya menyipit kembali merasa curiga. "Ya kita beda penerbanganlah. Atau jangan-jangan kamu emang mau macem-macem sama dia, hah?"Evan refleks menggeleng cepat."Nggak, dong. Ya udah boleh. Nanti aku pesenin kamar yang nggak jauh dari tempat aku nginep, ya," ujar Evan akhirnya mengizinkan, tak ingin memperpanjang masalah.Seketika wajah Erina kembali tersenyum cerah."Makasih, sayang!" seru Erina gembira, langsung memeluk Evan lebih erat.Namun di balik pelukan itu, sudut bibirnya berubah menjadi seringai jahat.'Kamu nggak bakal bisa dapetin Evan, Meyra!' batinnya dengan bangga penuh rasa kemenangan.Sedangkan Meyra sendiri, dia sama sekali tak peduli dengan drama mereka.Di kejauhan lantai dua restoran, Meyra malah menggelengkan kepala melihat mereka berpelukan mesra usai berdebat. Rasanya seperti menonton sinetron murahan.'Duh. Kesian ya harus diem-diem gitu kalau ketemu. Padahal dia ar

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 100 — Masih Marah

    "Bodo amatlah," gumam Meyra tak peduli, dia memilih melanjutkan langkahnya.Meyra masuk ke restoran. Dia langsung pergi ke lantai dua, dan memilih meja di dekat jendela panorama. Di sana, dia memesan banyak makanan paling mahal, seolah ingin menghukum Evan melalui tagihan.Pemandangan dari lantai dua lebih indah, pantai putih membentang bisa terlihat jelas seperti lukisan hidup.Sambil menunggu makanan datang, Meyra memainkan ponselnya. Tapi tak ada satu pun pesan atau panggilan tak terjawab dari Glen. Biasanya pria itu terkadang menanyakan kabarnya saat jam makan siang.Akhirnya Meyra mencoba mengirim pesan padanya. Namun tak ada balasan sama sekali. Panggilan pun tak kunjung diterima.Dengan memberanikan diri, Meyra kemudian mencoba menelepon Ian. Mungkin saja sekretarisnya itu tahu di mana Glen berada."Halo?" Ian langsung menerima panggilannya."H-hai Ian. Maaf ganggu waktunya. Boleh aku tau di mana papa sekarang?" tanya Meyra sedikit berhati-hati."Tuan Glen sedang makan siang sa

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 99 — Evan Tetap Suaminya

    Di gedung kantor Arson Bloom Company.Seorang pria tinggi melangkah masuk melalui pintu utama. Beberapa karyawan yang dilewatinya di lobi langsung menunduk dan menyapa dengan hormat.Namun Glen tak membalas, hanya terus berjalan dengan wajah datar. Tiba di lantai tertinggi gedung itu, dia langsung masuk ke ruangannya sambil membanting pintu dengan kasar.Brak!Suara kencang itu membuat dua orang yang sedang berbincang di depan ruangannya tersentak."Eh, kenapa tuh Pak Glen?" celetuk Tito, teman Ian yang datang mengobrol sebelum jam kerja dimulai.Dibalik meja sekretaris, Ian hanya menaikkan kedua bahunya. "Bukannya Pak Glen emang gitu, ya?""Iya, tau. Dia emang dingin orangnya. Tapi kali ini auranya lebih serem," sahut Tito sembari memeluk bahunya sendiri sedikit merinding.Ian tertawa pelan. Dia sudah terbiasa dengan berbagai suasana hati majikannya itu."Walau serem, Pak Glen nggak bakal ngigit, kok," katanya dengan santai, lalu berdiri mengambil dokumen untuk dilaporkan.Ian segera

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua    Bab 98 — Nggak Mau Kamu Disentuh!

    "Mas?" tanya Meyra seolah mendesak Evan karena dia hanya diam membisu,.Pria itu segera memutar otak dengan cepat."A-aku denger dari rumor. Ada grup sama beberapa kolega aku yang ngomongin soal acara amal itu," ucapnya berusaha meyakinkan, walau dengan suara yang sedikit gemetar.Meyra masih menatap datar. Tak ada sedikit pun ekspresi percaya di wajahnya. 'Dih. Maksain banget ngebohong,' pikirnya mencemooh dalam hati."Ekhem! Jadi, mau ke mana kita honeymoon nanti? Hm?" Evan berdehem pelan menyembunyikan kegugupannya, sembari mencoba mengalihkan pembicaraan."Atur aja sendiri. Yang penting tempatnya bagus, dan aku bisa pakai yacht yang kamu beliin," jawab Meyra dengan nada malas, seolah tak peduli.Evan langsung mengangguk menurut padanya. "Oke. Nanti aku cari tempatnya."Meyra menghela napas pelan, lalu melangkah keluar kamar setelah merapikan rambutnya yang sudah kering.Barulah setelah pintu tertutup rapat, senyuman manis Evan langsung pudar. Wajahnya yang tadi ramah berubah datar

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 97 — Honeymoon, Yuk

    Seketika Meyra bergidik jijik akan sentuhan Evan pada tubuhnya. Dengan cepat dia melepas pelukan itu dengan gerakan kasar dan langsung berdiri menatapnya tajam."Apa sih, mas?!" desis Meyra terdengar kesal, penuh dengan penolakan yang tegas.Evan mengerjap kaget, tak menyangka Meyra akan menolak sentuhannya dengan begitu gamblang."Loh? Kenapa? Bukannya ini yang kamu mau? Aku mau hubungan kita lebih erat," ujarnya, mencoba tersenyum meski wajahnya mulai menunjukkan keraguan.Meyra mendengus sebal. "Aku udah nggak mood."Tak ingin meladeninya lagi, Meyra melangkah mengambil pengering rambut di lacinya dan kembali duduk di depan meja rias.Evan menghela napas panjang, suaranya berat seperti orang yang menahan kelelahan. 'Mungkin dia masih kesel aku nggak pulang-pulang,' gumamnya dalam hati masih berusaha berpikir positif.Padahal bukan hanya itu yang membuat Meyra enggan disentuh olehnya."Aku minta maaf nggak sempat pulang semalam, Meyra. Kamu tau jarak kota Lovata itu jauh dan ada mac

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 96 — Rayuan

    "Iya, Bi. Aku abis berjemur di balkon luar. Cuacanya sejuk," jawab Meyra dengan santainya berkelit.Bi Tuti mengangguk paham, wajahnya yang teduh sama sekali tak merasa curiga. "Gitu, ya. Saya mau ngasih tau sarapan udah siap.""Iya, nanti aku makan. Sekarang mau mandi dulu," ucap Meyra.Kemudian Meyra bergegas pergi ke arah kamarnya di lantai satu. Langkahnya cepat namun tetap berusaha terlihat wajar.Bi Tuti pun melanjutkan pekerjaannya kembali, membersihkan setiap area rumah dengan rutin. Hingga akhirnya ketika ia hendak pergi ke ruang laundry, tiba-tiba muncul sosok pria yang menghampiri."Bi Tuti. Papa ada?" tanya Evan, napasnya sedikit terengah-engah. Dia masih mengenakan jas kerjanya, seolah baru saja berlari atau terburu-buru.Bi Tuti sedikit terkejut namun tetap menjawab. "Em, mungkin di kamarnya. Tuan masih belum berangkat, kok."Tanpa membuang-buang waktu, Evan bergegas pergi ke lantai. Dan saat tiba di depan kamar sang ayah, Evan menetralkan napasnya. Dia berusaha agar ter

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status