Perjalanan itu tampak hening dari luar, tapi bergejolak di dalam batin Meilissa.Dari sudut matanya, dia melirik Lionel. Lelaki itu terlihat tenang, seolah kecupan singkat di kening tadi tidak meninggalkan apa pun. Bagi Lionel, mungkin itu hanya gestur biasa—seperti yang kerap dia lakukan pada Liora.Pikiran itu membuat dada Meilissa menghangat sekaligus murung. Dia senang diperlakukan seperti itu, tapi tidak ingin disamakan dengan Liora. Meilissa menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam perasaan murung yang tiba-tiba muncul.“Bosan?” tanya Lionel tiba-tiba. Tangan lelaki itu sempat menyentuh kepala Meilissa sekilas, sementara matanya tetap fokus ke jalan.“Eh? Tidak kok, Om,” jawab Meilissa cepat. Dia menutupi terkejutnya dengan senyum, sedikit kaget karena Lionel menangkap perubahan suasana hatinya.“Kamu boleh nyalakan musik kalau mau,” ujar Lionel santai.Pandangan Meilissa beralih ke layar canggih di dashboard. Tidak ada pemutar CD. Dia pernah menggunakan alat itu di mobil Li
Última atualização : 2025-12-22 Ler mais