Alena berdiri mematung, napasnya tercekat melihat perempuan yang kini berdiri di hadapan pintu masuk rumah mereka. Penampilannya anggun, tapi tatapannya tajam seperti belati. Aziz tampak tegang, wajahnya berubah dalam sekejap begitu mengenali perempuan tersebut.“Siska…” gumam Aziz, suara beratnya nyaris tak terdengar.“Sudah lama, ya, Ziz,” jawab Siska dengan nada dingin. “Kupikir kamu sudah melupakanku. Ternyata masih ingat.”Aziz berusaha menjaga ketenangannya, tetapi Alena bisa melihat perubahan pada dirinya. Ini pertama kalinya ia melihat Aziz begitu terguncang. “Ini bukan waktu yang tepat, Siska. Aku sedang bersama… istri dan anak-anakku,” katanya, menekankan kata-kata terakhir.Siska tersenyum tipis, melirik Alena dari ujung kepala hingga kaki. “Istrimu, ya?” gumamnya, suaranya mengandung ejekan halus. “Pernikahan kita memang batal, Ziz, tapi kau janji tak akan pernah melupakan aku. Apa itu benar? Atau hanya omong kosong yang kau buat-buat waktu itu? Oh ya. Aku tak menyangka ji
Terakhir Diperbarui : 2025-11-26 Baca selengkapnya