"Ngapain punya adik? Bisa ribet nanti. Coba deh, kalau ada bayi di rumah, pasti aku yang harus bantuin kerjaan rumah lebih banyak. Pasti lebih susah."Zizi meringis, tidak setuju dengan pendapat Sasya. "Enggak kok, Kak, adik itu kan lucu! Kita bisa main sama dia, ngajarin dia, dan pasti seru banget."Sasya hanya mengangguk pelan, tetapi ekspresinya tetap menunjukkan ketidaktertarikan. "Aku udah cukup jadi anak pertama, Zizi. Udah banyak kerjaan yang harus dikerjain. Ngurusin adik? Bukan aku banget deh."Alena yang duduk di meja makan mendengarkan percakapan mereka, merasa sedikit canggung. Ia tidak tahu harus berkata apa, meskipun dia sendiri juga merasa ada yang mengganjal dalam hatinya. Ia memandang Zizi dan Sasya bergantian, mendapati dua pandangan yang begitu berbeda tentang adik bayi. Zizi yang penuh harap dan Sasya yang lebih pragmatis dan cenderung menolak ide tersebut."Sasya, Zizi, sudah, jangan berdebat," ujar Alena, mencoba menengahi. "
Terakhir Diperbarui : 2025-12-07 Baca selengkapnya