Suara gesekan ban truk yang baru saja diparkir di atas kerikil tajam gudang Yayasan terdengar memekakkan telinga. Slamet buru-buru merapikan ikat pinggangnya yang sempat miring, lalu mengusap wajahnya yang masih terasa panas. Ia sempat terhenti sejenak, menatap bayangannya di kaca spion sebuah armada logistik, hanya untuk menyadari bahwa kancing kerah kaos polonya terlepas satu. Di dalam kepalanya, ia masih membayangkan bagaimana Cindy tertawa kecil saat merapikan rok spannya tadi di balik sekat triplek. Gila, nekat banget, batinnya sambil menghela napas panjang."Met! Kok malah bengong di situ? Truk Bogor udah berangkat?" Brian muncul dari balik pintu kantor utama, memegang selembar brosur berwarna hijau muda yang tampak asing.Slamet tersentak, tangannya refleks meraba sakunya, memastikan tidak ada lipstik Cindy yang tertinggal di sana. "Eh, nggih Mas Brian. Sudah jalan tadi, si Dadang yang bawa. Aman, Mas.""Baguslah. Kamu makin cekatan aja. Tapi muk
Read more