Aroma sisa hujan semalam masih menguap dari aspal hitam di halaman depan Kemang, beradu dengan bau anyir dari noda cat merah yang belum sepenuhnya bersih di tembok gerbang. Sonya Baskoro berdiri di balik jendela kaca besar ruang tamu, jemarinya yang lentik mengetuk-ngetuk bingkai kayu dengan ritme yang tidak beraturan. Di luar, sebuah mobil sedan hitam dengan plat nomor diplomatik baru saja berhenti, mengeluarkan dua pria bersetelan jas kaku yang membawa koper kulit seolah-olah mereka baru saja turun dari pesawat di Zurich, bukan dari macetnya jalanan Jakarta."Tini, kopinya jangan pake gula buat tamu itu. Biar mereka ngerasa pait kayak muka mereka," instruksi Sonya tanpa menoleh."Nggih, Mbak Sonya. Tapi... itu tamunya kayaknya galak banget, Mbak," sahut Mbak Tini pelan, tangannya sedikit gemetar saat menata cangkir di nampan perak.Sonya berbalik, menyunggingkan senyum tipis yang tidak mencapai matanya—senyum yang paling ditakuti oleh staf operasional
Magbasa pa